Kalian pernah ngerasain, kalo waktu itu cepet banget
ngalirnya? Coba bayangin, dulu kalian pernah berada di suatu tempat dan di
tempat itu ada kenangan tersendiri buat kalian. Udah lama kalian ga ke tempat
itu, sampai suatu saat, secara ga sengaja kalian berada lagi di tempat itu.
kilasan-kilasan memori berseliweran. Kebodohan-kebodohan dan
kesuksesan-kesuksesan yang pernah kalian lakukan dulu mencuat lagi di dalam
kepala. Senyum, kalian tersenyum…mengenang lagi semua itu.
Kenangan,
semenyakitkan dan semenyenangkan apapun, pasti akan terasa menyejukkan
(setidaknya buat saya). Perumpaannya seperti angin sore; segar mengelus kulit.
Walaupun begitu, setiap kali mengenang sesuatu, ada satu hal yang membuat saya
takut juga.
Akhir-akhir ini saya memang termakan oleh doktrin Sahrul
tentang filasafat ‘pribados’; menjadi individu yang berkualitas adiluhung (
Akhir-akhir ini Sahrul memang gencar mengkampanyekan filsafat pribados,
setidaknya ke saya gitu). Berbicara tentang menjadi manusia yang mempunyai
kualitas adiluhung, ketika saya dikondisikan untuk berada dalam situasi yang
mengharuskan untuk mengkorek-korek kembali hal-hal yang pernah saya lakukan
dulu, terkadang saya melihat sebuah cermin yang seakan-akan mengatakan; “ga ada
bedanya antara diri kamu setaun yang lalu dengan yang sekarang”.
Nah, bicara tentang stagnansi, adalah sesuatu hal yang sangat
menyebalkan dan mungkin kalian semua juga, saya yakin, ga mau terjebak dalam
kemandekan, bukan? Tapi, ya itu, terkadang ketika saya mengenang sesuatu…saya
selalu dihadapkan oleh kenyataan tentang diri ini yang terjebak dalam
kemandekan. Seperti tidak ada bedanya diri saya yang dulu dengan diri saya yang
sekarang. Padahal, umur udah mau 22, istilahnya mah udah, anjis, mendekati tua
lah. tapi kalo dipikir-pikir kegiatan saya sekarang ini hanya diisi oleh maen
karambol, ngejek temen, patah hati di himpunan, ngelamun di kamar, bercanda dan
ketawa ngakak ga jelas sama temen, ngambil rokok di warung ketika ibu lagi di
kamar mandi – sangat-sangat tidak produktif. Anjis, lama kelamaan aktivitas
kaya gitu ga akan menghasilkan apa-apa. Urgh, harus dirubah.
Kalian pernah
merasakannya, ketika kalian dihadapkan pada fakta bahwa kehidupan kalian tidak
bergerak kemana-mana, sedangkan disisi lain, jarum jam terus menerus bergulir?
Ugh, jangan sampai tumbang, teman. Carpe diem, seize the day.
Posted at 12:17 pm by abotidakpaham