sebenarnya di sabtu siang
itu mata kerasa sepet. Seperti ditusuk jarum-jarum kecil. Asap rokok
yang saya isep juga kerasa pahang. Maklum, sepanjang malam, mau ga mau, mata
(harus) terus memelototi rentetan kata-kata yang terpampang di dalam monitor;
nge-cek apakah ada kesalahan logika, salah persepsi, salah ketikan dan seribu
satu kesalahan lainnya dalam tulisan yang sudah saya buat.
Siang itu saya udah ga peduli lagi sama isi tulisan saya, mau
salah-mau bener-mau dangkal, pek mangga, silahkan baca. Bagi saya, yang
penting satu hutang terlunasi sebelum jatuh tempo. Belum lagi sinar matahari
jam 2 siang yang nusuk ke mata…duh, perjalanan dari gedung tiga ke ke gedung
empat jadi ngebikin dungdeng (manja banget, ya?). Jadinya pengen cepet
pulang ke rumah. Pengen tidur. Tidur sekaligus berharap ketika bangun nanti
pikiran jadi plong, ces pleng, mulus dan tanpa beban. Dari
kemaren tidur gelisah melulu soalnya.
Saya masuk keruangan di mana tulisan saya harus disimpan.
Ruangan itu di isi sama sekat-sekat yang menjadi petanda pembagian ruang kerja
bagi tiap ketua jurusan program diploma. Saya nyari-nyari tempat di mana saya
harus menyimpan tulisan saya. Ada satu ruang kerja yang ditempeli papan kecil
berwarna biru bertuliskan “PENYIARAN”. Di dalamnya terlihat kepala orang sedang
menunduk. Asyik sendiri. Sementara ruang kerja yang lainnya, saya lihat,
kosong. Cuman orang itu yang ada di ruangan. Saya mendekat. Yah, orang ini,
betul dia orangnya. Dia sedang asyik membaca majalah. Telunjuknya khusyuk
menyisir tiap kata demi kata yang tercetak di majalah. Gaya membacanya lucu,
seolah-olah bukan matanya saja yang membaca tulisan, tetapi seluruh tubuhnya
seperti ikut berkonsentrasi memperhatikan setiap makna yang terdapat di dalam
setiap kata. Kamu harus liat sendiri gaya dia membaca waktu itu, baru ngerti
apa yang saya tuliskan. Melihat gaya membacanya itu, pantas saja dia bisa
begitu jeli memperhatikan kesalahan ejaan dalam bahasa indonesia.
Dia belum menyadari kehadiran saya di ruangan itu, bahkan
ketika saya masuk ke ruang kerjanya pun dia masih terus membaca.
“…Pak, eu…mau ngumpulin tugas…,” kata saya kikuk.
Barulah dia mendongkakkan kepala. Ekspresi muka nya kaya yang cengo
gitu. Hehe, culun.
“Mana?”, tanyanya sembari menjulurkan tangan.
Saya kasih
tulisan saya, berikut tulisan titipan punya Army dan Hendro. setelahnya, dia
kembali lagi ke dunianya; dunia yang dipenuhi oleh teks-teks, dunia membaca.
Saya ditinggalkannya bersama kesunyian. Saya masih diam mematung.
Antara kikuk dan canggung, saya
kembali membuka suara, “…eu, Pak, eu…tulisan ini nantinya harus dikirimin ke
media massa?”
Ia mengiyakan tanpa menoleh ke
arah muka saya. Untuk sejenak, saya diam lagi. Merasa dikacangin. Masih kikuk
dan canggung, saya buka suara lagi, “…er, tapi pak, eu…narasumber saya ngomong
jangan dipublikasiin ke media massa?”
Diam-diam, setumpuk argumen telah saya siapkan untuk
pertanyaan yang akan dia ajukan nanti. Sebuah pertanyaan paling menuntut
keterampilan berpikir runut dan logis di atas rata-rata. Pembicaraan dengan
narasumber saya tentang alasan penelitiannya yang tidak ingin dipublikasikan
telah saya rekam dalam otak jauh-jauh hari. Dalam pikiran saya, orang di
hadapan saya sekarang ini terkenal dalam keahliannya melontarkan pertanyaan
sepele, tetapi bagi orang yang dituntut untuk menjawabnya, diperlukan terlebih
dahulu pemikiran yang sarat kontemplasi dan pemikiran mendalam alias tidak
dangkal. Saya pernah punya pengalaman, saya pernah ditanya oleh orang ini.
Pertanyaannya benar-benar sepele dan saya pun menjawabnya secara sepele pula.
Tapi, beliau membalas jawaban saya itu dengan pernyataan yang menukik dalam dan
menorehkan huruf “T” untuk “TOLOL” ke muka saya. Semenjak itu saya tidak akan
pernah menganggap sepele lagi setiap pertanyaan yang dia lontarkan.
Setelah
mendengar pernyataan tentang narasumber saya yang tidak ingin penelitiannya
dipublikasikan itu, dia mengarahkan pandangannya kepada saya. Saya sudah siap
sedia dengan argumen dan sejuta alasan yang akan menjadi amunisi dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang akan dia lontarkan…
“Ya,
sudah jangan dikirimkan,” katanya lalu kembali membaca majalah yang ada di
mejanya itu.
Saya
terdiam (lagi). Bayangan-bayangan tentang pertanyaan-pertanyaannya yang akan
menguji tinggi-rendahnya kadar intelektualitas saya sebagai seseorang yang
sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah, tidak terjadi. Sesimpel itu saja
jawabannya? Untuk beberapa detik, teman akrab saya, kesunyian, kembali
merangkul. Untuk yang kedua kalinya, saya merasa dikacangin.
Berbasa-basi,
saya mengucapkan terima kasih sekaligus sebagai tanda untuk berpamitan. Sebelum
keluar dari ruang kerjanya, saya perhatikan suasananya. Paper-paper yang
menjadi tanda tugas-tugas mahasiswa menumpuk. Bila saya menulis kata
‘menumpuk’, itu artinya benar-benar menumpuk. Ruang kerjanya sempit karena
sebagian lahannya dipenuhi tumpukan-tumpukan paper itu. Belum lagi buku-buku
yang tersusun rapih di atas lemari; mulai dari buku tentang pengembangan diri,
bahasa indonesia hingga psikologi.
Berbeda dengan ruang kerja yang lainnya; begitu
bersih, lowong dan rapih layaknya ruang kerja pejabat tinggi. Sedangkan, ruang
kerja yang satu ini suasananya mirip ketika saya maen ke Banceuy atau Palasari
buat beli majalah bekas. Lebih mirip sama tukang loak yang menjajakan majalah
bekas. Bedanya, ruangan itu ga diisi majalah bekas. Melainkan diisi oleh
paper-paper tugas mahasiswa.
Gila,
ini orang serius sama kerjaannya! Dalem hati saya nyeloteh. Kebayang aja,
tumpukan yang segitu banyaknya dibaca ama dia. Semua paper yang jumlahnya
ratusan itu diamati, dicermati, dianalisis dan dikomentari oleh dia. Gila,
gimana cara fokusnya kalau papernya berjumlah ratusan? Terus, ada berapa ratus
mahasiswa yang diajar olehnya, coba? Ga kebayang. Bisa muntah kalau saya
disuruh membaca paper sebanyak itu.
Tiba-tiba
saya teringat saat nongkrong sama temen-temen minggu lalu. Waktu itu suasana
lagi hectic. Ada satu tugas dari mata kuliah Penulisan Feature Media
Massa Cetak yang bikin temen-temen kelabakan. Saking ngebuat kelabakannya,
sampai-sampai mereka semua jadi ‘sibuk’ dan ‘aral’ pada saat yang bersamaan.
Hingga ucapan ‘selamat berjuang’ pun menjadi ucapan selamat tinggal terfavorit
saat itu. Saya ingat kata-kata yang diucapkan oleh dosen pengajar mata kuliah
tersebut, “bila di sebut mudah, tugas PL 1 jauh lebih mudah dari PL 2. Bila
disebut sulit, tugas PL 2 jauh lebih sulit dari PL 1.”
Ya-ya-ya…saya
akui, saya lemah dalam logika.
Waktu
itu saya juga sama dengan teman-teman yang lainnya; sibuk dan aral pada saat
yang bersamaan. Saat itu saya punya sejuta alasan untuk mengeluh, tapi saya
lebih memilih ngelamun di depan gedung tiga sambil ngerokok. Cape soalnya,
tidur ga nyenyak.
Lagi
ngelamun, seorang teman mendekat, “Bo, mau ikut nanda-tangan ga?”
“Hah,
nanda-tanganin apaan Ron?”, rada ga konek, soalnya perhatian masih tertuju pada
perempuan cantik berambut panjang yang baru aja ngelewat.
“ini…pernyataan
sikap, tugasnya terlalu berat, Bo. Waktu seminggu buat ngerjain tugas ini ga
akan cukup. Ini terlalu berat,” teman saya menjelaskan, “temen-temen yang lain
juga pada mau nanda-tangan.”
Saya
ga tau siapa aja yang mau ikut nanda-tangan itu pernyataan. Saya liat
dibelakang teman saya, Roni, itu ada Yoga, Army, Vito, Nata…sisanya ga tau
siapa lagi, lupa. Saya nge-hang sejenak, nyerna ajakan temen saya itu.
Saya nge-hang, merasa ada yang mengganjal. Saat itu, saya ragu-ragu, takut
menyinggung perasaannya sama disangka sotoy.
“eu…tapi,
kata gue mah bisa sih kita ngerjain tugas ini. Asal kita tau celahnya kita
pasti bisa. Soalnya, kemaren aja si Hendro dapet tesisnya dalem waktu cuman
sehari,” akhirnya saya keluarin pikiran yang sempet ngebuat saya nge-hang untuk
beberapa detik itu.
“tapi…tugas
ini terlalu berat, Bo. Waktu seminggu ga akan cukup…,” temen saya tetep ngotot.
Saya nge-hang lagi.
”…eu, iya sih…kendala utama ada di narasumber,
paling susah di situ,” jawab saya ga nyambung. Saya ga mau ikut ngotot.
Filsafat bulan puasa kemaren saya praktekkan lagi; orang lain puasa-ikut puasa,
orang lain buka puasa-ikut buka puasa dan orang lain sahur-ikut sahur.
--------------------------------------
Melunasi hutang dan
menunggu hutang yang lain lagi. Syaraf yang menegang, sekarang melunak dan
mungkin ini hanya sementara. Saya sudah mencium aroma ‘revisi’. Walaupun
sebatas aroma, tapi sudah terbayang seperti apa situasinya nanti.
Merekonstruksi kerangka tulisan, menyusun list pertanyaan, menelepon narasumber
dan seabreg aktivitas lainnya. Di satu sisi, saya menikmati segala kekacauan
ini. Karena saya tau, ketika semua ini berakhir, saya bisa bernafas lega. Ada
semacam kesadaran atas bermaknanya sebuah kehidupan, kejamnya putaran waktu dan
kepuasan yang tidak terdefinisikan ketika kekacauan ini bisa ditangani dengan
baik, walaupun tidak sempurna.
Di sisi yang lain, ternyata diri sendiri lah yang
menjadi penghalang utama dari tiap langkah yang akan di mulai. Ketakutan dan
rasa tidak percaya diri itu ternyata dikonstruk oleh pikiran sendiri. Di sisi
seperti ini, kaki terasa lebih berat untuk diayun. Di sisi ini lah yang akan
menentukan siapa dan seperti apa dirimu itu sebenarnya. Kita menggenggam
kontrol atas hidup kita dan kita pula yang akan merangkul saat-saat kematian
atas diri kita. Dan di atas semuanya, hidup tidak akan pernah sama. Tidak akan
pernah.
Nah,
di Sabtu siang itu, sehabis dari ruangan yang saya ceritakan di atas, saya
duduk malas-malasan di depan gedung tiga bareng Nata dan Hendro. Cuacanya
sungguh panas betul. Saya berharap punya pintu kemana saja ala Doraemon itu,
supaya bisa cepat ada di rumah. Tapi itu mah cuman hayalan bau. Sebau kentut.
Sebenernya saya ingin
cepat-cepat berada di rumah, karena mata sudah sampai mati lelahnya.
Bener-bener belel. Tapi, panasnya cuaca saat itu ngebuat saya males kemana-mana
kecuali duduk malas-malasan sambil menikmati sepinya kampus dan melapangkan
dada menerima ejekan Nata yang menyebut saya dan Hendro sebagai pasangan homo
yang baru saja jadian (ada apa dengan jomblo, Ndro? Hingga kita harus disebut
homo).
Tapi,
terserah Ibu Nata saja lah, dia mau nyebut saya homo atau apa pun. Terserah.
Tapi, tau kamu Nat, sampe sekarang wajah orang yang ada di ruang kerja yang
saya ceritakan itu masih terngiang-ngiang dalam otak dan taukah kamu Nat? orang
yang terngiang-ngiang dalam benak saya itu berjenis kelamin pria. Bahkan hingga
malam ini, ketika tiba-tiba tercetus untuk menulis secara ‘ngaler-ngidul’,
suasana ruang kerja itu masih terasa sampe ke kamar; tumpukan paper, buku-buku
yang tersusun di atas lemari…dan seseorang, ya, seseorang yang sedang duduk
sambil membaca majalah dengan serius di ruang kerja yang berantakan itu.
Sebutlah terbayang-bayang; berjejal memenuhi pikiran saya pada malam ini.
Bersamaan dengan itu, terpikir juga soal ajakan temen saya perihal tanda-tangan
pernyataan sikap pada minggu lalu. Jadi atau engga, ya? Sampai sekarang belum
ada kabar lagi, soalnya.
Belum
juga hilang semua itu bahan pikiran, tiba-tiba terlintas tulisan si Nata yang
pernah saya baca, (mau tidak mau) menambah lagi bahan untuk dipikirkan. Sebuah
tulisan simpel berbentuk testimonial yang bermuara kepada satu pertanyaan;
harus apa kita?
“Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
-(Qur’an.
Al-Alaq: 1-5)-