"You think i ain't worth a dollar, but i feel like a millionaire."
-abo
-jurnalistik unpad
-ambient plus drone worshipper
BLOGJUGEND
fitrah
opik
bayu
dee
esther

therainydays
nia

praga
army
yoga
nata
   

<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, January 01, 2007
…Tentang Dosen Pengajar Mata Kuliah Penulisan Feature Media Massa Cetak.

sebenarnya di sabtu siang itu mata kerasa sepet. Seperti ditusuk jarum-jarum kecil. Asap rokok yang saya isep juga kerasa pahang. Maklum, sepanjang malam, mau ga mau, mata (harus) terus memelototi rentetan kata-kata yang terpampang di dalam monitor; nge-cek apakah ada kesalahan logika, salah persepsi, salah ketikan dan seribu satu kesalahan lainnya dalam tulisan yang sudah saya buat.

      Siang itu saya udah ga peduli lagi sama isi tulisan saya, mau salah-mau bener-mau dangkal, pek mangga, silahkan baca. Bagi saya, yang penting satu hutang terlunasi sebelum jatuh tempo. Belum lagi sinar matahari jam 2 siang yang nusuk ke mata…duh, perjalanan dari gedung tiga ke ke gedung empat jadi ngebikin dungdeng (manja banget, ya?). Jadinya pengen cepet pulang ke rumah. Pengen tidur. Tidur sekaligus berharap ketika bangun nanti pikiran jadi plong, ces pleng, mulus dan tanpa beban. Dari kemaren tidur gelisah melulu soalnya.

      Saya masuk keruangan di mana tulisan saya harus disimpan. Ruangan itu di isi sama sekat-sekat yang menjadi petanda pembagian ruang kerja bagi tiap ketua jurusan program diploma. Saya nyari-nyari tempat di mana saya harus menyimpan tulisan saya. Ada satu ruang kerja yang ditempeli papan kecil berwarna biru bertuliskan “PENYIARAN”. Di dalamnya terlihat kepala orang sedang menunduk. Asyik sendiri. Sementara ruang kerja yang lainnya, saya lihat, kosong. Cuman orang itu yang ada di ruangan. Saya mendekat. Yah, orang ini, betul dia orangnya. Dia sedang asyik membaca majalah. Telunjuknya khusyuk menyisir tiap kata demi kata yang tercetak di majalah. Gaya membacanya lucu, seolah-olah bukan matanya saja yang membaca tulisan, tetapi seluruh tubuhnya seperti ikut berkonsentrasi memperhatikan setiap makna yang terdapat di dalam setiap kata. Kamu harus liat sendiri gaya dia membaca waktu itu, baru ngerti apa yang saya tuliskan. Melihat gaya membacanya itu, pantas saja dia bisa begitu jeli memperhatikan kesalahan ejaan dalam bahasa indonesia.

      Dia belum menyadari kehadiran saya di ruangan itu, bahkan ketika saya masuk ke ruang kerjanya pun dia masih terus membaca.

      “…Pak, eu…mau ngumpulin tugas…,” kata saya kikuk.

      Barulah dia mendongkakkan kepala. Ekspresi muka nya kaya yang cengo gitu. Hehe, culun.

      “Mana?”, tanyanya sembari menjulurkan tangan. 

      Saya kasih tulisan saya, berikut tulisan titipan punya Army dan Hendro. setelahnya, dia kembali lagi ke dunianya; dunia yang dipenuhi oleh teks-teks, dunia membaca. Saya ditinggalkannya bersama kesunyian. Saya masih diam mematung.

Antara kikuk dan canggung, saya kembali membuka suara, “…eu, Pak, eu…tulisan ini nantinya harus dikirimin ke media massa?”

Ia mengiyakan tanpa menoleh ke arah muka saya. Untuk sejenak, saya diam lagi. Merasa dikacangin. Masih kikuk dan canggung, saya buka suara lagi, “…er, tapi pak, eu…narasumber saya ngomong jangan dipublikasiin ke media massa?”

Diam-diam, setumpuk argumen telah saya siapkan untuk pertanyaan yang akan dia ajukan nanti. Sebuah pertanyaan paling menuntut keterampilan berpikir runut dan logis di atas rata-rata. Pembicaraan dengan narasumber saya tentang alasan penelitiannya yang tidak ingin dipublikasikan telah saya rekam dalam otak jauh-jauh hari. Dalam pikiran saya, orang di hadapan saya sekarang ini terkenal dalam keahliannya melontarkan pertanyaan sepele, tetapi bagi orang yang dituntut untuk menjawabnya, diperlukan terlebih dahulu pemikiran yang sarat kontemplasi dan pemikiran mendalam alias tidak dangkal. Saya pernah punya pengalaman, saya pernah ditanya oleh orang ini. Pertanyaannya benar-benar sepele dan saya pun menjawabnya secara sepele pula. Tapi, beliau membalas jawaban saya itu dengan pernyataan yang menukik dalam dan menorehkan huruf “T” untuk “TOLOL” ke muka saya. Semenjak itu saya tidak akan pernah menganggap sepele lagi setiap pertanyaan yang dia lontarkan. 

Setelah mendengar pernyataan tentang narasumber saya yang tidak ingin penelitiannya dipublikasikan itu, dia mengarahkan pandangannya kepada saya. Saya sudah siap sedia dengan argumen dan sejuta alasan yang akan menjadi amunisi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dia lontarkan…

“Ya, sudah jangan dikirimkan,” katanya lalu kembali membaca majalah yang ada di mejanya itu.

Saya terdiam (lagi). Bayangan-bayangan tentang pertanyaan-pertanyaannya yang akan menguji tinggi-rendahnya kadar intelektualitas saya sebagai seseorang yang sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah, tidak terjadi. Sesimpel itu saja jawabannya? Untuk beberapa detik, teman akrab saya, kesunyian, kembali merangkul. Untuk yang kedua kalinya, saya merasa dikacangin.

Berbasa-basi, saya mengucapkan terima kasih sekaligus sebagai tanda untuk berpamitan. Sebelum keluar dari ruang kerjanya, saya perhatikan suasananya. Paper-paper yang menjadi tanda tugas-tugas mahasiswa menumpuk. Bila saya menulis kata ‘menumpuk’, itu artinya benar-benar menumpuk. Ruang kerjanya sempit karena sebagian lahannya dipenuhi tumpukan-tumpukan paper itu. Belum lagi buku-buku yang tersusun rapih di atas lemari; mulai dari buku tentang pengembangan diri, bahasa indonesia hingga psikologi.

Berbeda dengan ruang kerja yang lainnya; begitu bersih, lowong dan rapih layaknya ruang kerja pejabat tinggi. Sedangkan, ruang kerja yang satu ini suasananya mirip ketika saya maen ke Banceuy atau Palasari buat beli majalah bekas. Lebih mirip sama tukang loak yang menjajakan majalah bekas. Bedanya, ruangan itu ga diisi majalah bekas. Melainkan diisi oleh paper-paper tugas mahasiswa.

Gila, ini orang serius sama kerjaannya! Dalem hati saya nyeloteh. Kebayang aja, tumpukan yang segitu banyaknya dibaca ama dia. Semua paper yang jumlahnya ratusan itu diamati, dicermati, dianalisis dan dikomentari oleh dia. Gila, gimana cara fokusnya kalau papernya berjumlah ratusan? Terus, ada berapa ratus mahasiswa yang diajar olehnya, coba? Ga kebayang. Bisa muntah kalau saya disuruh membaca paper sebanyak itu.

Tiba-tiba saya teringat saat nongkrong sama temen-temen minggu lalu. Waktu itu suasana lagi hectic. Ada satu tugas dari mata kuliah Penulisan Feature Media Massa Cetak yang bikin temen-temen kelabakan. Saking ngebuat kelabakannya, sampai-sampai mereka semua jadi ‘sibuk’ dan ‘aral’ pada saat yang bersamaan. Hingga ucapan ‘selamat berjuang’ pun menjadi ucapan selamat tinggal terfavorit saat itu. Saya ingat kata-kata yang diucapkan oleh dosen pengajar mata kuliah tersebut, “bila di sebut mudah, tugas PL 1 jauh lebih mudah dari PL 2. Bila disebut sulit, tugas PL 2 jauh lebih sulit dari PL 1.”

Ya-ya-ya…saya akui, saya lemah dalam logika.

Waktu itu saya juga sama dengan teman-teman yang lainnya; sibuk dan aral pada saat yang bersamaan. Saat itu saya punya sejuta alasan untuk mengeluh, tapi saya lebih memilih ngelamun di depan gedung tiga sambil ngerokok. Cape soalnya, tidur ga nyenyak.

Lagi ngelamun, seorang teman mendekat, “Bo, mau ikut nanda-tangan ga?”

“Hah, nanda-tanganin apaan Ron?”, rada ga konek, soalnya perhatian masih tertuju pada perempuan cantik berambut panjang yang baru aja ngelewat.  

“ini…pernyataan sikap, tugasnya terlalu berat, Bo. Waktu seminggu buat ngerjain tugas ini ga akan cukup. Ini terlalu berat,” teman saya menjelaskan, “temen-temen yang lain juga pada mau nanda-tangan.”

Saya ga tau siapa aja yang mau ikut nanda-tangan itu pernyataan. Saya liat dibelakang teman saya, Roni, itu ada Yoga, Army, Vito, Nata…sisanya ga tau siapa lagi, lupa. Saya nge-hang sejenak, nyerna ajakan temen saya itu. Saya nge-hang, merasa ada yang mengganjal. Saat itu, saya ragu-ragu, takut menyinggung perasaannya sama disangka sotoy.

“eu…tapi, kata gue mah bisa sih kita ngerjain tugas ini. Asal kita tau celahnya kita pasti bisa. Soalnya, kemaren aja si Hendro dapet tesisnya dalem waktu cuman sehari,” akhirnya saya keluarin pikiran yang sempet ngebuat saya nge-hang untuk beberapa detik itu.

“tapi…tugas ini terlalu berat, Bo. Waktu seminggu ga akan cukup…,” temen saya tetep ngotot. Saya nge-hang lagi.

”…eu, iya sih…kendala utama ada di narasumber, paling susah di situ,” jawab saya ga nyambung. Saya ga mau ikut ngotot. Filsafat bulan puasa kemaren saya praktekkan lagi; orang lain puasa-ikut puasa, orang lain buka puasa-ikut buka puasa dan orang lain sahur-ikut sahur.

--------------------------------------

Melunasi hutang dan menunggu hutang yang lain lagi. Syaraf yang menegang, sekarang melunak dan mungkin ini hanya sementara. Saya sudah mencium aroma ‘revisi’. Walaupun sebatas aroma, tapi sudah terbayang seperti apa situasinya nanti. Merekonstruksi kerangka tulisan, menyusun list pertanyaan, menelepon narasumber dan seabreg aktivitas lainnya. Di satu sisi, saya menikmati segala kekacauan ini. Karena saya tau, ketika semua ini berakhir, saya bisa bernafas lega. Ada semacam kesadaran atas bermaknanya sebuah kehidupan, kejamnya putaran waktu dan kepuasan yang tidak terdefinisikan ketika kekacauan ini bisa ditangani dengan baik, walaupun tidak sempurna.

Di sisi yang lain, ternyata diri sendiri lah yang menjadi penghalang utama dari tiap langkah yang akan di mulai. Ketakutan dan rasa tidak percaya diri itu ternyata dikonstruk oleh pikiran sendiri. Di sisi seperti ini, kaki terasa lebih berat untuk diayun. Di sisi ini lah yang akan menentukan siapa dan seperti apa dirimu itu sebenarnya. Kita menggenggam kontrol atas hidup kita dan kita pula yang akan merangkul saat-saat kematian atas diri kita. Dan di atas semuanya, hidup tidak akan pernah sama. Tidak akan pernah.    

Nah, di Sabtu siang itu, sehabis dari ruangan yang saya ceritakan di atas, saya duduk malas-malasan di depan gedung tiga bareng Nata dan Hendro. Cuacanya sungguh panas betul. Saya berharap punya pintu kemana saja ala Doraemon itu, supaya bisa cepat ada di rumah. Tapi itu mah cuman hayalan bau. Sebau kentut.

       Sebenernya saya ingin cepat-cepat berada di rumah, karena mata sudah sampai mati lelahnya. Bener-bener belel. Tapi, panasnya cuaca saat itu ngebuat saya males kemana-mana kecuali duduk malas-malasan sambil menikmati sepinya kampus dan melapangkan dada menerima ejekan Nata yang menyebut saya dan Hendro sebagai pasangan homo yang baru saja jadian (ada apa dengan jomblo, Ndro? Hingga kita harus disebut homo).

Tapi, terserah Ibu Nata saja lah, dia mau nyebut saya homo atau apa pun. Terserah. Tapi, tau kamu Nat, sampe sekarang wajah orang yang ada di ruang kerja yang saya ceritakan itu masih terngiang-ngiang dalam otak dan taukah kamu Nat? orang yang terngiang-ngiang dalam benak saya itu berjenis kelamin pria. Bahkan hingga malam ini, ketika tiba-tiba tercetus untuk menulis secara ‘ngaler-ngidul’, suasana ruang kerja itu masih terasa sampe ke kamar; tumpukan paper, buku-buku yang tersusun di atas lemari…dan seseorang, ya, seseorang yang sedang duduk sambil membaca majalah dengan serius di ruang kerja yang berantakan itu. Sebutlah terbayang-bayang; berjejal memenuhi pikiran saya pada malam ini. Bersamaan dengan itu, terpikir juga soal ajakan temen saya perihal tanda-tangan pernyataan sikap pada minggu lalu. Jadi atau engga, ya? Sampai sekarang belum ada kabar lagi, soalnya.            

Belum juga hilang semua itu bahan pikiran, tiba-tiba terlintas tulisan si Nata yang pernah saya baca, (mau tidak mau) menambah lagi bahan untuk dipikirkan. Sebuah tulisan simpel berbentuk testimonial yang bermuara kepada satu pertanyaan; harus apa kita?

   

 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

-(Qur’an. Al-Alaq: 1-5)-


Posted at 04:09 pm by abotidakpaham

suep
April 18, 2007   08:21 AM PDT
 
wuah... tulisan kamu panjang yah... lumayan mnyita duwit buwat bayar warnet... heheheh...
eh, aku juga pernah tuh. dah nyiapain alesan seabrek, eh si bapak dosen tercinta cuma bilang, "oh... ya uda kalo bgitu, ga usah ajah..." wuah......... sia-sia derita ga bisa tidur karena gelisah mau ngomongin alesannya ituuuu
natanatanata
January 15, 2007   08:26 AM PST
 
wow... tampak eksis sekali nama saya di tulisan kamu yg satu ini Bo..

ngomong2 saya sedikit merinding baca potongan ayat al Alaq nya...

baca tulisan kamu tentang sahat sahala tua saragih.. membuat gw mengawang.. balik ke awal..pertama kali ktm dia di watak smester 3..

dan tau gak kamu Bo, walau muka dia udah ngehantuin hidup saya 6 bulan trakhir ini, bikin malam2 saya ga seenak begadang biasanya [biasanya dulu begadang itu ngelamun..bukan bikin pl],
walaupun saya ngerapel lap baca 5 minggu [yang artinya 5 minggu hidup saya dihiasi kata utang],
dan walaupun saya rada2 gak suka ama sikap 'manis' nya ama makhluk berkelamin wanita..[kalo saya pas masuk ke ruang tumpukan kertas itu, gak dikacangin kayak kamu lho, Bo.. dia ikut berdiri dan ngobrol sama saya.. jangan sirik ya hahahaha]..
walaupun walaupun dan walaupun Bo..
saya ga akan nandatanganin apa yg kamu bilang soal surat pernyataan sikap tadi..

waktu itu saya mungkin emang ada di sana.. tp bukan berarti saya setuju kan? kayak kata blueman "if i get along, doesn't mean i'm along.. doesn't mean i follow along.."

karena ga tau kenapa poster dia yg ada tulisannya "the idol" buatannya si yoga itu buat gw maknanya bukan konotasi.. tapi emang bener.. saya sedikitnya, mengidolakan dia...

jadi ya.. begitulah...

tau gak saya nulis ini di jeda menuju UAS ficer cetak yang ternyata tinggal sejam lagi.. disuruh apa ya kita Bo?

ngomong2.. kamu berlapang ada kan dengan ejekan 'homo' saya wkt itu? haha..tenang bo..saya paling tau kamu gak homo..iya kan?[sambil ngedipin mata sebelah..] nanti kita bagi2 gosip lagi hahaha...

[dan terngianglah lagu indonesia lawas yang mengalun di ruang k.s.p.s sore itu... orang yang sedang tenggelam dalam tumpukan kertas itu kemudian mengikuti saya ke ruang duduk untuk menulis nama yang lupa saya cantumkan pada amplop..
"trima kasih pak"...
"kok Bapak..? ...Aabaang!", ujarnya dipanjangkan...]

hmmm ya ya.. aabaaangg...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry