"You think i ain't worth a dollar, but i feel like a millionaire."
-abo
-jurnalistik unpad
-ambient plus drone worshipper
BLOGJUGEND
fitrah
opik
bayu
dee
esther

therainydays
nia

praga
army
yoga
nata
   

<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, January 03, 2007
Kelahiran Behemoth



Di penghujung tahun, semuanya telah berantakan, tapi masih dalam taraf terkontrol. Beberapa kompatriot ada yang menggila. Hal itu diindikasikan dengan perilaku yang sedikit diluar batas kewajaran, seperti meniup sangsakala disaat para pendosa dan tukang tobat berkumpul dalam gua yang disemen oleh makelar tanah bertabiat ekspansionis.

            Adalah Urgehal dan Saphuthuran yang meniup sangsakala yang ditemukan oleh Behemoth di tengah-tengah jalan pentahbisan dosa. Behemoth terdiam sembari senyum-senyum sendiri melihat kedua kompatriotnya silih berganti meniup sangsakala. Ia tersenyum melihat ekspresi keduanya itu ketika meniup terompet. Saphuthuran meniup dengan mimik muka yang serius, tapi sebenarnya lebih menjurus kepada raut wajah yang konyol. Sedangkan Urgehal meniup sangsakala layaknya orang mabuk dengan mata yang belel dan wajah yang dungu.

            Diantara perilaku nihilis kedua kompatriotnya, Behemoth duduk di tengah bara api yang menjalar dari puncak Valhalla. Menanti apa yang akan datang selanjutnya. Apa yang harus dilakukan bila sesuatu yang tidak terduga itu mendarat tepat dihadapan mukanya. Sesekali pikiran Behemoth teralihkan oleh suara-suara sangsakala yang ditiupkan oleh Saphuthuran dan Urgehal. Ia tersenyum melihat mereka berdua, walaupun ia sama sekali tidak menyukai suara yang keluar dari sangsakala. Suaranya terlalu bising dan membuat jantung berdegup keras.

 

Baiklah…apalagi yang akan datang sekarang? Kan kutunggu…tidak, tidak! Jangan ditunggu, hadapi langsung! Ah, mereka tidak harus mengetahui apa yang menjadi ekspektasiku. Mereka sudah cukup dipusingkan oleh konflik keyakinan yang ada di dalam diri mereka. Tidak perlu lagi kutambah, sepertinya. Lagipula, terlalu banyak kabar yang simpangsiur berkelibatan di angkasa yang memerah itu. Otakku seperti tidak kuat lagi untuk menampung kabar simpangsiur yang berlebih ini!

Kasihan sebenarnya. Tidak harus sampai mendepak jauh-jauh ia yang mengetahui, ketika jasad mereka tidak sanggup memenuhi keinginan otak mereka. Tapi, itu sudah terjadi…dan beberapa kompatriot takut untuk tidak kembali lagi ke altar bila kejadian seperti itu terulang. Sungguh memuakkan benar tentang segala hal yang sudah terjadi ini! Tapi sepertinya semua ini akan terus datang dan datang lagi entah sampai kapan? Kasihan. Sungguh-sungguh kasihan. Namun begitu, aku tidak tahu harus kasihan kepada siapa? Mereka? Para kompatriot yang telah masuk ke dalam guaku selama ini. Aku? Seseorang yang berpikiran lambat, selambat siput atau kita semua harus menyalahkan alur kehidupan ini? Ah…

Tapi aku percaya kepada ia yang memancarkan cahaya itu. Suatu saat aku pasti bisa menemukan sumber cahaya itu. Sumber yang akan membuat denyut kehidupan berjalan tenang, lembut dan terarah. Aku sendiri tidak tahu apakah itu benar, tapi aku meyakininya. Semenjak disekelilingku tidak ada satupun yang dapat meniupkan hawa ketenangan yang dalam menjalar hingga ke dasar kalbu. Ya, sepertinya aku meyakininya…malah, sepertinya aku mulai merindukannya.

O, dimanakah engkau, yang mengeluarkan cahaya dan memancarkan ketenangan? Aku merindukanmu. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua yang telah dan akan terjadi ini. Atas segala hal yang  menimpaku sejauh  ini, aku membutuhkan ketenangan dan kelembutannya untuk membuatku lebih berani dan bersemangat lagi. Aku merindukannya.

…sepertinya diantara keputus-asaan yang mematikan benak mereka, kompatriot yang kucintai, aku masih berharap sesuatu yang lebih. Cahaya yang telah lama kucari, aku percaya itu ada. Walaupun untuk saat ini, tidak begitu terlihat dan terasa. Namun, entah kenapa, cahaya itu sudah pasti menantiku di ujung sana. Berat dan menyesakkan memang.

 

Urgehal dan Saphuthuran terlelap tidur. Perayaan penghabisan malam telah usai. Mereka telah melewati seluruh rangkaian ritual dalam perayaan penghabisan malam itu. Sisa-sisa makanan berserakan di dalam gua. Beberapa makanan bahkan tidak dihabiskan dan dibiarkan begitu saja. Behemoth belum tidur. Ia masih berbincang-bincang dengan kompatriot yang datang terakhir saat perayaan. Namanya Leviathan.

Untuk beberapa hal, ada kedekatan yang terjalin antara Behemoth dan Leviathan. Sebuah kedekatan yang terjalin di tengah-tengah waktu yang sulit. Sebuah empati dan simpati yang tumbuh diantara keduanya ketika situasi menjadi berat. Katakanlah sebuah rasa senasib-sepenanggungan. Dahulu kala, Leviathan pernah terpuruk. Segala persembahan yang ia lakukan tidak cukup membuat pencerahan bagi dirinya. Kebetulan Behemoth tengah berada dalam lingkaran hidupnya dan ia memperhatikan keadaan dirinya yang menjadi muram. Awalnya Leviathan tidak berani mengemukakan masalah yang menimpanya itu. Namun seiring siang dan malam berputar terus-menerus, akhirnya ketidakberanian itu hilang juga. Perlahan-lahan Leviathan merasa nyaman untuk mengeluarkan keluh-kesahnya, walaupun tidak semua masalah berani ia tumpahkan kepada Behemoth.

Untuk Behemoth, mendengar keluh-kesah bukanlah sesuatu yang membosankan amat. Walaupun terkadang ia merasa jengah mendengarkan segala keluh-kesah yang diutarakan oleh para kompatriotnya. Namun, disisi-lain ia memiliki rasa kepenasaran yang sangat terhadap sisi kehidupan kompatriot-kompatriotnya itu dan ia tidak bisa memalingkan muka begitu saja bila ada salah satu dari mereka menumpahkan keluh-kesahnya. Behemoth tertarik pada semua itu.

Tetapi di penghujung tahun itu Behemoth tidak ingin mengetahui lebih dalam sisi kehidupan Leviathan. Walaupun Behemoth mengetahui bahwasannya Leviathan mempunyai setumpuk titah yang belum sempat ditunaikan. Di penghujung tahun ini, Behemoth tidak ingin membahas apa yang ada di dalam benak Leviathan. Dalam hati Behemoth tersimpan suatu ketakutan dan harapan yang tidak bisa ditekan lagi. Hal itu cukup menguasai suasana hatinya. Segala ucapan Leviathan diperhatikannya dengan sambil lalu. Dalam pikirannya ada hal lain yang membuatnya mengacuhkan hal-hal diluar dirinya.

 

Sepertinya sudah sampai disini. Di momen antiklimaks ini. Semuanya berjalan biasa-biasa saja. Tidak ada kejutan yang menginspirasi. Tidak ada adegan dramatis yang sanggup membuat iblis paling nista untuk mengucurkan air mata. Semuanya lewat dengan datar-datar saja. Sebenarnya aku ingin sesuatu yang lebih dari ini. Tapi sudahlah, sudah tidak ada apa-apa lagi sekarang. Fajar sebentar lagi menyingsing dan aku harus bangun lagi seperti sedia kala untuk melayani kehidupan. Toh, dengan adanya sesuatu yang dramatis atau tidak, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Esensi seringkali luput dari pencarian akan pencerahan seseorang. Substansi kalah cepat dari kemasannya.      

Marlboro. Nescafe. Converse. Indocafe. Dji Sam Soe. A Mild. Trivium. Sunn O))). The Adams. Polyester Embassy. Honda Supra Fit. Doctor Marteens. Advance. Asus Quiettrack. Samsung 52 X Max. HBO. FTV. Epiphone SG. Prince Amplifier. Kompas. Horizon. New Balance. Sony Recorder. Ouval. ABC. Alkaline. Diamond Flash Disk. Bandung and Beyond. HP Deskjet. Sigma. Matrik. CD-R Plus. Lamb Of God. Soundgarden. Hizbullah dan Nasrallah. Jurnalisme Sastrawi. Neraka Guantanamo. HMJ.

Perayaan-perayaan itu…apa maknanya? Apa yang harus dilakukan ketika semua perayaan itu usai? Apakah penghujung tahun memang harus dihabiskan dengan perayaan-perayaan dan ritual? Kenapa harus ada terompet? Kenapa harus keluar rumah dan bersorak-sorai bersama kompatriot di saat malam telah menemukan akhirnya? Apa yang sebenarnya dirayakan? Apa sebenarnya yang menjadi makna dari semua ritual penghujung malam itu?

Apakah perayaan itu adalah manifestasi dari harapan yang ada dalam benak setiap orang? Bila begitu adanya, mengapa mereka menari-nari dan berteriak-teriak di jalan? Mengapa mereka berkerumun di luar gua mereka dan mengadakan ritual-ritual kecil bersama kompatriotnya masing-masing? Apakah harapan mereka akan terlaksana dengan adanya semua itu? Ataukah mereka, manusia, memang menyenangi hiburan? Ataukah mereka, manusia, merasa kesepian dan mulai mencari-cari alasan untuk merayakan penghujung malam, sekedar hanya untuk berkumpul-kumpul? Ah…

 

“Kenapa?”, Leviathan menyadari Behemoth yang terbius oleh lamunannya sendiri. Behemoth terkejut dan mengalihkan perhatian Leviathan dengan menanyakan hal-hal seputar kehidupannya. Dalam beberapa hal, Behemoth akan terbuka mengenai dirinya. Namun kali ini, Ia menginginkan kehidupan di dirinya tetap berada dalam dirinya. Ia tidak ingin seseorang pun mengetahui siapa dirinya.

“…dan setiap penghabisan waktu yang terus mendera…ku kira tidak ada alasan bagiku untuk menghentikannya. Tidak, tidak…sebenarnya bukan kepada alasan…namun lebih kepada keadaan diriku ini. Diriku yang…lemah….sepertinya begitu…,” Leviathan berbicara kembali tentang masalah di seputar kehidupannya. Sebuah permasalahan menyangkut eksistensinya. Sebuah pencarian akan pencapaian jati dirinya.

Di mata Behemoth, Leviathan adalah seseorang yang selalu tidak puas akan keadaan dirinya yang sekarang. Ia senantiasa memaksakan dirinya untuk terus maju melebihi keterbatasan yang ada. Hal itu merupakan sesuatu yang baik. Setidaknya individu seseorang akan mengalami perkembangan yang pesat apabila terus-menerus digembleng seperti itu. Namun penggemblengan seperti itu bisa menghasilkan sesuatu yang negatif juga.

Behemoth memperhatikan tingkah laku Leviathan yang terlalu keras terhadap dirinya akhir-akhir ini. Bahkan saking kerasnya ia menggembleng dirinya sendiri, semua kesempatan yang ada diambilnya semua. Dalam titik tertentu, Leviathan merasa kewalahan menerima dan mengurus semua kesempatan itu. Suatu waktu, Behemoth pernah membicarakan hal ini dengannya.

“Hidup hanya sekali, bung. Banyak hal yang akan kau sesali kemudian ketika setiap kesempatan yang ada tidak kau manfaatkan dengan baik. Intinya, kapan lagi kau bisa melakukan semua itu?” Leviathan beralasan ketika Behemoth membicarakan masalah ini.

“Ya, hidup memang sekali dan begitu banyak kesempatan yang menghampirimu di kehidupan yang hanya satu kali ini. Tapi, lihat dirimu sekarang. Engkau kewalahan. Engkau terlalu keras terhadap dirimu sendiri. Hal yang kutakutkan adalah kau menjadi kehilangan arah karena semua ini. Bagaimana jadinya nanti bila ternyata semua hal yang kau urus itu menjadi berantakan dan kau malah tidak mendapat apa-apa selain kehancuranmu sendiri?” balas Behemoth saat itu.

Tapi, di balik sifat pendiam dan pemalunya Leviathan, tersimpan suatu tekad yang kuat dan keras kepala yang kental. Saran yang diucapkan oleh Behemoth tidak ditanggapinya secara serius. Hanya sekedar masukan. Behemoth sudah mengerti sifatnya yang keras kepala itu dan ia tidak berusaha keras merubah pandangan Leviathan sedikitpun.

Behemoth menyimpan rasa hormat yang tinggi terhadap Leviathan. Rasa hormat itu tumbuh karena tekad dan kemauan yang kuat yang ada di diri Leviathan. Behemoth merasa dirinya tidak sebaik Leviathan yang mempunyai kemauan dan tekad yang besar. Behemoth merasa bahwa dirinya adalah segala hal yang bersanding terbalik dengan Leviathan; kemauan yang kecil dan tekad yang minim akan sesuatu hal. Karena itulah, Behemoth menaruh hormat kepadanya. Dengan harapan  bahwa sifat yang ada dalam diri Leviathan akan menjadi pemicu bagi dirinya untuk bisa lebih kuat, berani dan yang terpenting, berkembang.

Leviathan terus membicarakan kehidupannya dengan Behemoth. Dalam benak Behemoth sendiri, ketakutan dan harapan yang sedari tadi meresahkannya sudah semakin kuat mendominasi. Dalam hati ia meronta-ronta ingin sendiri. Ia berharap Leviathan mengantuk dan segera tertidur, sehingga ia bisa menyendiri. Lama-kelamaan, ucapan-ucapan Leviathan hanya seperti sebuah dengung dengan makna-makna kosong yang sekedar melewat masuk ke dalam telinga Behemoth. Pikirannya sudah tidak di tempat itu. Konsentrasinya sudah bukan pada ucapan-ucapan Leviathan. Behemoth sudah berada di kehidupannya sendiri.

Aku…yang tidak percaya…. Aku…yang hidup di dunia penuh dengan sinisme, keangkuhan, keegoisan…aku menghirup nafas kehidupan layaknya jamur-jamur berbiak di atas onggokkan tai purba*. Mereka-mereka yang mengumbar tentang siapa diri mereka, menguapkan rasa muak mereka di saat mereka tidak berani melemparnya langsung di kehidupan nyata…mereka yang telah membunuh kemurnian dari setiap kehidupan dan secara tidak langsung membentuk diriku seperti sekarang…persetan dengan mereka! Aku telah lahir; melambung, jatuh, bahagia, muram…seperti sebuah rangkuman kehidupan. Dan diatas segalanya. Di atas segalanya hidupku tidak akan sama lagi. Tidak akan pernah.

O, ia yang memberikan ketenangan. Aku membutuhkanmu. Di antara hari-hari yang melupakan antara aku denganmu…aku menyesal. Seperti putaran roda hari-hari berputar, pasti aku akan menjadi seperti sedia kala. Melupakanmu. Lagi. Namun aku kembali mengingatmu dengan rasa malu yang sangat, karena ketika hari semakin memanaslah aku merindukanmu. Memohon-mohon lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, karena aku adalah selemah-lemahnya makhluk. Diakui atau tidak, aku akan selalu membutuhkanmu. Membutuhkanmu.

Malam telah berakhir. Fajar menyingsing. Leviathan, Saphuthuran dan Urgehal masih terlelap dalam tidur. Gua menjadi sangat berantakan karena perayaan semalam. Televisi menyala membawa kabar-kabar dari dunia luar. Hidup berjalan normal seperti sedia kala. Tidak ada yang baru.

 

 



Posted at 04:41 pm by abotidakpaham

babahtiar
April 16, 2008   02:51 PM PDT
 
Hade euy blogna.... kunjungi oge nya blog urang
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home