Di penghujung tahun, semuanya
telah berantakan, tapi masih dalam taraf terkontrol. Beberapa kompatriot ada
yang menggila. Hal itu diindikasikan dengan perilaku yang sedikit diluar batas
kewajaran, seperti meniup sangsakala disaat para pendosa dan tukang tobat berkumpul
dalam gua yang disemen oleh makelar tanah bertabiat ekspansionis.
Adalah
Urgehal dan Saphuthuran yang meniup sangsakala yang ditemukan oleh Behemoth di
tengah-tengah jalan pentahbisan dosa. Behemoth terdiam sembari senyum-senyum
sendiri melihat kedua kompatriotnya silih berganti meniup sangsakala. Ia
tersenyum melihat ekspresi keduanya itu ketika meniup terompet. Saphuthuran
meniup dengan mimik muka yang serius, tapi sebenarnya lebih menjurus kepada
raut wajah yang konyol. Sedangkan Urgehal meniup sangsakala layaknya orang
mabuk dengan mata yang belel dan wajah yang dungu.
Diantara
perilaku nihilis kedua kompatriotnya, Behemoth duduk di tengah bara api yang
menjalar dari puncak Valhalla. Menanti apa
yang akan datang selanjutnya. Apa yang harus dilakukan bila sesuatu yang tidak
terduga itu mendarat tepat dihadapan mukanya. Sesekali pikiran Behemoth
teralihkan oleh suara-suara sangsakala yang ditiupkan oleh Saphuthuran dan
Urgehal. Ia tersenyum melihat mereka berdua, walaupun ia sama sekali tidak
menyukai suara yang keluar dari sangsakala. Suaranya terlalu bising dan membuat
jantung berdegup keras.
Baiklah…apalagi yang akan datang sekarang? Kan kutunggu…tidak, tidak! Jangan ditunggu,
hadapi langsung! Ah, mereka tidak harus mengetahui apa yang menjadi
ekspektasiku. Mereka sudah cukup dipusingkan oleh konflik keyakinan yang ada di
dalam diri mereka. Tidak perlu lagi kutambah, sepertinya. Lagipula, terlalu
banyak kabar yang simpangsiur berkelibatan di angkasa yang memerah itu. Otakku
seperti tidak kuat lagi untuk menampung kabar simpangsiur yang berlebih ini!
Kasihan sebenarnya. Tidak harus sampai mendepak jauh-jauh ia yang
mengetahui, ketika jasad mereka tidak sanggup memenuhi keinginan otak mereka.
Tapi, itu sudah terjadi…dan beberapa kompatriot takut untuk tidak kembali lagi
ke altar bila kejadian seperti itu terulang. Sungguh memuakkan benar tentang
segala hal yang sudah terjadi ini! Tapi sepertinya semua ini akan terus datang
dan datang lagi entah sampai kapan? Kasihan. Sungguh-sungguh kasihan. Namun
begitu, aku tidak tahu harus kasihan kepada siapa? Mereka? Para
kompatriot yang telah masuk ke dalam guaku selama ini. Aku? Seseorang yang
berpikiran lambat, selambat siput atau kita semua harus menyalahkan alur
kehidupan ini? Ah…
Tapi aku percaya kepada ia yang memancarkan cahaya itu. Suatu saat aku
pasti bisa menemukan sumber cahaya itu. Sumber yang akan membuat denyut
kehidupan berjalan tenang, lembut dan terarah. Aku sendiri tidak tahu apakah
itu benar, tapi aku meyakininya. Semenjak disekelilingku tidak ada satupun yang
dapat meniupkan hawa ketenangan yang dalam menjalar hingga ke dasar kalbu. Ya,
sepertinya aku meyakininya…malah, sepertinya aku mulai merindukannya.
O, dimanakah engkau, yang mengeluarkan cahaya dan memancarkan
ketenangan? Aku merindukanmu. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua
yang telah dan akan terjadi ini. Atas segala hal yang menimpaku sejauh ini, aku membutuhkan ketenangan dan
kelembutannya untuk membuatku lebih berani dan bersemangat lagi. Aku
merindukannya.
…sepertinya diantara keputus-asaan yang mematikan benak mereka,
kompatriot yang kucintai, aku masih berharap sesuatu yang lebih. Cahaya yang
telah lama kucari, aku percaya itu ada. Walaupun untuk saat ini, tidak begitu
terlihat dan terasa. Namun, entah kenapa, cahaya itu sudah pasti menantiku di
ujung sana.
Berat dan menyesakkan memang.
Urgehal dan Saphuthuran terlelap
tidur. Perayaan penghabisan malam telah usai. Mereka telah melewati seluruh
rangkaian ritual dalam perayaan penghabisan malam itu. Sisa-sisa makanan
berserakan di dalam gua. Beberapa makanan bahkan tidak dihabiskan dan dibiarkan
begitu saja. Behemoth belum tidur. Ia masih berbincang-bincang dengan
kompatriot yang datang terakhir saat perayaan. Namanya Leviathan.
Untuk beberapa
hal, ada kedekatan yang terjalin antara Behemoth dan Leviathan. Sebuah
kedekatan yang terjalin di tengah-tengah waktu yang sulit. Sebuah empati dan
simpati yang tumbuh diantara keduanya ketika situasi menjadi berat. Katakanlah
sebuah rasa senasib-sepenanggungan. Dahulu kala, Leviathan pernah terpuruk.
Segala persembahan yang ia lakukan tidak cukup membuat pencerahan bagi dirinya.
Kebetulan Behemoth tengah berada dalam lingkaran hidupnya dan ia memperhatikan
keadaan dirinya yang menjadi muram. Awalnya Leviathan tidak berani mengemukakan
masalah yang menimpanya itu. Namun seiring siang dan malam berputar
terus-menerus, akhirnya ketidakberanian itu hilang juga. Perlahan-lahan
Leviathan merasa nyaman untuk mengeluarkan keluh-kesahnya, walaupun tidak semua
masalah berani ia tumpahkan kepada Behemoth.
Untuk
Behemoth, mendengar keluh-kesah bukanlah sesuatu yang membosankan amat. Walaupun
terkadang ia merasa jengah mendengarkan segala keluh-kesah yang diutarakan oleh
para kompatriotnya. Namun, disisi-lain ia memiliki rasa kepenasaran yang sangat
terhadap sisi kehidupan kompatriot-kompatriotnya itu dan ia tidak bisa
memalingkan muka begitu saja bila ada salah satu dari mereka menumpahkan
keluh-kesahnya. Behemoth tertarik pada semua itu.
Tetapi di
penghujung tahun itu Behemoth tidak ingin mengetahui lebih dalam sisi kehidupan
Leviathan. Walaupun Behemoth mengetahui bahwasannya Leviathan mempunyai
setumpuk titah yang belum sempat ditunaikan. Di penghujung tahun ini, Behemoth
tidak ingin membahas apa yang ada di dalam benak Leviathan. Dalam hati Behemoth
tersimpan suatu ketakutan dan harapan yang tidak bisa ditekan lagi. Hal itu
cukup menguasai suasana hatinya. Segala ucapan Leviathan diperhatikannya dengan
sambil lalu. Dalam pikirannya ada hal lain yang membuatnya mengacuhkan hal-hal
diluar dirinya.
Sepertinya sudah sampai disini. Di momen antiklimaks ini. Semuanya
berjalan biasa-biasa saja. Tidak ada kejutan yang menginspirasi. Tidak ada
adegan dramatis yang sanggup membuat iblis paling nista untuk mengucurkan air
mata. Semuanya lewat dengan datar-datar saja. Sebenarnya aku ingin sesuatu yang
lebih dari ini. Tapi sudahlah, sudah tidak ada apa-apa lagi sekarang. Fajar
sebentar lagi menyingsing dan aku harus bangun lagi seperti sedia kala untuk
melayani kehidupan. Toh, dengan adanya sesuatu yang dramatis atau tidak, aku
sudah tidak memperdulikannya lagi. Esensi seringkali luput dari pencarian akan pencerahan
seseorang. Substansi kalah cepat dari kemasannya.
Marlboro. Nescafe. Converse.
Indocafe. Dji Sam Soe. A Mild. Trivium. Sunn O))). The Adams.
Polyester Embassy. Honda Supra Fit. Doctor Marteens. Advance. Asus Quiettrack.
Samsung 52 X Max. HBO. FTV. Epiphone SG. Prince Amplifier. Kompas. Horizon. New
Balance. Sony Recorder. Ouval. ABC. Alkaline. Diamond Flash Disk. Bandung and Beyond. HP
Deskjet. Sigma. Matrik. CD-R Plus. Lamb Of God. Soundgarden. Hizbullah dan
Nasrallah. Jurnalisme Sastrawi. Neraka Guantanamo. HMJ.
Perayaan-perayaan itu…apa maknanya? Apa yang harus dilakukan ketika
semua perayaan itu usai? Apakah penghujung tahun memang harus dihabiskan dengan
perayaan-perayaan dan ritual? Kenapa harus ada terompet? Kenapa harus keluar
rumah dan bersorak-sorai bersama kompatriot di saat malam telah menemukan
akhirnya? Apa yang sebenarnya dirayakan? Apa sebenarnya yang menjadi makna dari
semua ritual penghujung malam itu?
Apakah perayaan itu adalah manifestasi dari harapan yang ada dalam
benak setiap orang? Bila begitu adanya, mengapa mereka menari-nari dan
berteriak-teriak di jalan? Mengapa mereka berkerumun di luar gua mereka dan mengadakan
ritual-ritual kecil bersama kompatriotnya masing-masing? Apakah harapan mereka
akan terlaksana dengan adanya semua itu? Ataukah mereka, manusia, memang
menyenangi hiburan? Ataukah mereka, manusia, merasa kesepian dan mulai
mencari-cari alasan untuk merayakan penghujung malam, sekedar hanya untuk
berkumpul-kumpul? Ah…
“Kenapa?”, Leviathan menyadari
Behemoth yang terbius oleh lamunannya sendiri. Behemoth terkejut dan
mengalihkan perhatian Leviathan dengan menanyakan hal-hal seputar kehidupannya.
Dalam beberapa hal, Behemoth akan terbuka mengenai dirinya. Namun kali ini, Ia
menginginkan kehidupan di dirinya tetap berada dalam dirinya. Ia tidak ingin
seseorang pun mengetahui siapa dirinya.
“…dan setiap
penghabisan waktu yang terus mendera…ku kira tidak ada alasan bagiku untuk
menghentikannya. Tidak, tidak…sebenarnya bukan kepada alasan…namun lebih kepada
keadaan diriku ini. Diriku yang…lemah….sepertinya begitu…,” Leviathan berbicara
kembali tentang masalah di seputar kehidupannya. Sebuah permasalahan menyangkut
eksistensinya. Sebuah pencarian akan pencapaian jati dirinya.
Di mata
Behemoth, Leviathan adalah seseorang yang selalu tidak puas akan keadaan
dirinya yang sekarang. Ia senantiasa memaksakan dirinya untuk terus maju
melebihi keterbatasan yang ada. Hal itu merupakan sesuatu yang baik. Setidaknya
individu seseorang akan mengalami perkembangan yang pesat apabila terus-menerus
digembleng seperti itu. Namun penggemblengan seperti itu bisa menghasilkan
sesuatu yang negatif juga.
Behemoth
memperhatikan tingkah laku Leviathan yang terlalu keras terhadap dirinya
akhir-akhir ini. Bahkan saking kerasnya ia menggembleng dirinya sendiri, semua
kesempatan yang ada diambilnya semua. Dalam titik tertentu, Leviathan merasa
kewalahan menerima dan mengurus semua kesempatan itu. Suatu waktu, Behemoth
pernah membicarakan hal ini dengannya.
“Hidup hanya
sekali, bung. Banyak hal yang akan kau sesali kemudian ketika setiap kesempatan
yang ada tidak kau manfaatkan dengan baik. Intinya, kapan lagi kau bisa
melakukan semua itu?” Leviathan beralasan ketika Behemoth membicarakan masalah
ini.
“Ya, hidup
memang sekali dan begitu banyak kesempatan yang menghampirimu di kehidupan yang
hanya satu kali ini. Tapi, lihat dirimu sekarang. Engkau kewalahan. Engkau
terlalu keras terhadap dirimu sendiri. Hal yang kutakutkan adalah kau menjadi
kehilangan arah karena semua ini. Bagaimana jadinya nanti bila ternyata semua
hal yang kau urus itu menjadi berantakan dan kau malah tidak mendapat apa-apa
selain kehancuranmu sendiri?” balas Behemoth saat itu.
Tapi, di balik
sifat pendiam dan pemalunya Leviathan, tersimpan suatu tekad yang kuat dan keras
kepala yang kental. Saran yang diucapkan oleh Behemoth tidak ditanggapinya
secara serius. Hanya sekedar masukan. Behemoth sudah mengerti sifatnya yang
keras kepala itu dan ia tidak berusaha keras merubah pandangan Leviathan
sedikitpun.
Behemoth
menyimpan rasa hormat yang tinggi terhadap Leviathan. Rasa hormat itu tumbuh karena
tekad dan kemauan yang kuat yang ada di diri Leviathan. Behemoth merasa dirinya
tidak sebaik Leviathan yang mempunyai kemauan dan tekad yang besar. Behemoth
merasa bahwa dirinya adalah segala hal yang bersanding terbalik dengan
Leviathan; kemauan yang kecil dan tekad yang minim akan sesuatu hal. Karena
itulah, Behemoth menaruh hormat kepadanya. Dengan harapan bahwa sifat yang ada dalam diri Leviathan akan
menjadi pemicu bagi dirinya untuk bisa lebih kuat, berani dan yang terpenting,
berkembang.
Leviathan terus
membicarakan kehidupannya dengan Behemoth. Dalam benak Behemoth sendiri,
ketakutan dan harapan yang sedari tadi meresahkannya sudah semakin kuat
mendominasi. Dalam hati ia meronta-ronta ingin sendiri. Ia berharap Leviathan
mengantuk dan segera tertidur, sehingga ia bisa menyendiri. Lama-kelamaan, ucapan-ucapan
Leviathan hanya seperti sebuah dengung dengan makna-makna kosong yang sekedar
melewat masuk ke dalam telinga Behemoth. Pikirannya sudah tidak di tempat itu.
Konsentrasinya sudah bukan pada ucapan-ucapan Leviathan. Behemoth sudah berada
di kehidupannya sendiri.
Aku…yang tidak percaya…. Aku…yang hidup di
dunia penuh dengan sinisme, keangkuhan, keegoisan…aku menghirup nafas kehidupan
layaknya jamur-jamur berbiak di atas onggokkan tai purba*. Mereka-mereka yang
mengumbar tentang siapa diri mereka, menguapkan rasa muak mereka di saat mereka
tidak berani melemparnya langsung di kehidupan nyata…mereka yang telah membunuh
kemurnian dari setiap kehidupan dan secara tidak langsung membentuk diriku
seperti sekarang…persetan dengan mereka! Aku telah lahir; melambung, jatuh,
bahagia, muram…seperti sebuah rangkuman kehidupan. Dan diatas segalanya. Di
atas segalanya hidupku tidak akan sama lagi. Tidak akan pernah.
O, ia yang memberikan ketenangan. Aku membutuhkanmu. Di antara
hari-hari yang melupakan antara aku denganmu…aku menyesal. Seperti putaran roda
hari-hari berputar, pasti aku akan menjadi seperti sedia kala. Melupakanmu.
Lagi. Namun aku kembali mengingatmu dengan rasa malu yang sangat, karena ketika
hari semakin memanaslah aku merindukanmu. Memohon-mohon lagi. Aku tidak tahu
harus bagaimana lagi, karena aku adalah selemah-lemahnya makhluk. Diakui atau
tidak, aku akan selalu membutuhkanmu. Membutuhkanmu.
Malam telah
berakhir. Fajar menyingsing. Leviathan, Saphuthuran dan Urgehal masih terlelap
dalam tidur. Gua menjadi sangat berantakan karena perayaan semalam. Televisi
menyala membawa kabar-kabar dari dunia luar. Hidup berjalan normal seperti
sedia kala. Tidak ada yang baru.