|
|
 |
Wednesday, January 03, 2007
Di penghujung tahun, semuanya
telah berantakan, tapi masih dalam taraf terkontrol. Beberapa kompatriot ada
yang menggila. Hal itu diindikasikan dengan perilaku yang sedikit diluar batas
kewajaran, seperti meniup sangsakala disaat para pendosa dan tukang tobat berkumpul
dalam gua yang disemen oleh makelar tanah bertabiat ekspansionis.
Adalah
Urgehal dan Saphuthuran yang meniup sangsakala yang ditemukan oleh Behemoth di
tengah-tengah jalan pentahbisan dosa. Behemoth terdiam sembari senyum-senyum
sendiri melihat kedua kompatriotnya silih berganti meniup sangsakala. Ia
tersenyum melihat ekspresi keduanya itu ketika meniup terompet. Saphuthuran
meniup dengan mimik muka yang serius, tapi sebenarnya lebih menjurus kepada
raut wajah yang konyol. Sedangkan Urgehal meniup sangsakala layaknya orang
mabuk dengan mata yang belel dan wajah yang dungu.
Diantara
perilaku nihilis kedua kompatriotnya, Behemoth duduk di tengah bara api yang
menjalar dari puncak Valhalla. Menanti apa
yang akan datang selanjutnya. Apa yang harus dilakukan bila sesuatu yang tidak
terduga itu mendarat tepat dihadapan mukanya. Sesekali pikiran Behemoth
teralihkan oleh suara-suara sangsakala yang ditiupkan oleh Saphuthuran dan
Urgehal. Ia tersenyum melihat mereka berdua, walaupun ia sama sekali tidak
menyukai suara yang keluar dari sangsakala. Suaranya terlalu bising dan membuat
jantung berdegup keras.
Baiklah…apalagi yang akan datang sekarang? Kan kutunggu…tidak, tidak! Jangan ditunggu,
hadapi langsung! Ah, mereka tidak harus mengetahui apa yang menjadi
ekspektasiku. Mereka sudah cukup dipusingkan oleh konflik keyakinan yang ada di
dalam diri mereka. Tidak perlu lagi kutambah, sepertinya. Lagipula, terlalu
banyak kabar yang simpangsiur berkelibatan di angkasa yang memerah itu. Otakku
seperti tidak kuat lagi untuk menampung kabar simpangsiur yang berlebih ini!
Kasihan sebenarnya. Tidak harus sampai mendepak jauh-jauh ia yang
mengetahui, ketika jasad mereka tidak sanggup memenuhi keinginan otak mereka.
Tapi, itu sudah terjadi…dan beberapa kompatriot takut untuk tidak kembali lagi
ke altar bila kejadian seperti itu terulang. Sungguh memuakkan benar tentang
segala hal yang sudah terjadi ini! Tapi sepertinya semua ini akan terus datang
dan datang lagi entah sampai kapan? Kasihan. Sungguh-sungguh kasihan. Namun
begitu, aku tidak tahu harus kasihan kepada siapa? Mereka? Para
kompatriot yang telah masuk ke dalam guaku selama ini. Aku? Seseorang yang
berpikiran lambat, selambat siput atau kita semua harus menyalahkan alur
kehidupan ini? Ah…
Tapi aku percaya kepada ia yang memancarkan cahaya itu. Suatu saat aku
pasti bisa menemukan sumber cahaya itu. Sumber yang akan membuat denyut
kehidupan berjalan tenang, lembut dan terarah. Aku sendiri tidak tahu apakah
itu benar, tapi aku meyakininya. Semenjak disekelilingku tidak ada satupun yang
dapat meniupkan hawa ketenangan yang dalam menjalar hingga ke dasar kalbu. Ya,
sepertinya aku meyakininya…malah, sepertinya aku mulai merindukannya.
O, dimanakah engkau, yang mengeluarkan cahaya dan memancarkan
ketenangan? Aku merindukanmu. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua
yang telah dan akan terjadi ini. Atas segala hal yang menimpaku sejauh ini, aku membutuhkan ketenangan dan
kelembutannya untuk membuatku lebih berani dan bersemangat lagi. Aku
merindukannya.
…sepertinya diantara keputus-asaan yang mematikan benak mereka,
kompatriot yang kucintai, aku masih berharap sesuatu yang lebih. Cahaya yang
telah lama kucari, aku percaya itu ada. Walaupun untuk saat ini, tidak begitu
terlihat dan terasa. Namun, entah kenapa, cahaya itu sudah pasti menantiku di
ujung sana.
Berat dan menyesakkan memang.
Urgehal dan Saphuthuran terlelap
tidur. Perayaan penghabisan malam telah usai. Mereka telah melewati seluruh
rangkaian ritual dalam perayaan penghabisan malam itu. Sisa-sisa makanan
berserakan di dalam gua. Beberapa makanan bahkan tidak dihabiskan dan dibiarkan
begitu saja. Behemoth belum tidur. Ia masih berbincang-bincang dengan
kompatriot yang datang terakhir saat perayaan. Namanya Leviathan.
Untuk beberapa
hal, ada kedekatan yang terjalin antara Behemoth dan Leviathan. Sebuah
kedekatan yang terjalin di tengah-tengah waktu yang sulit. Sebuah empati dan
simpati yang tumbuh diantara keduanya ketika situasi menjadi berat. Katakanlah
sebuah rasa senasib-sepenanggungan. Dahulu kala, Leviathan pernah terpuruk.
Segala persembahan yang ia lakukan tidak cukup membuat pencerahan bagi dirinya.
Kebetulan Behemoth tengah berada dalam lingkaran hidupnya dan ia memperhatikan
keadaan dirinya yang menjadi muram. Awalnya Leviathan tidak berani mengemukakan
masalah yang menimpanya itu. Namun seiring siang dan malam berputar
terus-menerus, akhirnya ketidakberanian itu hilang juga. Perlahan-lahan
Leviathan merasa nyaman untuk mengeluarkan keluh-kesahnya, walaupun tidak semua
masalah berani ia tumpahkan kepada Behemoth.
Untuk
Behemoth, mendengar keluh-kesah bukanlah sesuatu yang membosankan amat. Walaupun
terkadang ia merasa jengah mendengarkan segala keluh-kesah yang diutarakan oleh
para kompatriotnya. Namun, disisi-lain ia memiliki rasa kepenasaran yang sangat
terhadap sisi kehidupan kompatriot-kompatriotnya itu dan ia tidak bisa
memalingkan muka begitu saja bila ada salah satu dari mereka menumpahkan
keluh-kesahnya. Behemoth tertarik pada semua itu.
Tetapi di
penghujung tahun itu Behemoth tidak ingin mengetahui lebih dalam sisi kehidupan
Leviathan. Walaupun Behemoth mengetahui bahwasannya Leviathan mempunyai
setumpuk titah yang belum sempat ditunaikan. Di penghujung tahun ini, Behemoth
tidak ingin membahas apa yang ada di dalam benak Leviathan. Dalam hati Behemoth
tersimpan suatu ketakutan dan harapan yang tidak bisa ditekan lagi. Hal itu
cukup menguasai suasana hatinya. Segala ucapan Leviathan diperhatikannya dengan
sambil lalu. Dalam pikirannya ada hal lain yang membuatnya mengacuhkan hal-hal
diluar dirinya.
Sepertinya sudah sampai disini. Di momen antiklimaks ini. Semuanya
berjalan biasa-biasa saja. Tidak ada kejutan yang menginspirasi. Tidak ada
adegan dramatis yang sanggup membuat iblis paling nista untuk mengucurkan air
mata. Semuanya lewat dengan datar-datar saja. Sebenarnya aku ingin sesuatu yang
lebih dari ini. Tapi sudahlah, sudah tidak ada apa-apa lagi sekarang. Fajar
sebentar lagi menyingsing dan aku harus bangun lagi seperti sedia kala untuk
melayani kehidupan. Toh, dengan adanya sesuatu yang dramatis atau tidak, aku
sudah tidak memperdulikannya lagi. Esensi seringkali luput dari pencarian akan pencerahan
seseorang. Substansi kalah cepat dari kemasannya.
Marlboro. Nescafe. Converse.
Indocafe. Dji Sam Soe. A Mild. Trivium. Sunn O))). The Adams.
Polyester Embassy. Honda Supra Fit. Doctor Marteens. Advance. Asus Quiettrack.
Samsung 52 X Max. HBO. FTV. Epiphone SG. Prince Amplifier. Kompas. Horizon. New
Balance. Sony Recorder. Ouval. ABC. Alkaline. Diamond Flash Disk. Bandung and Beyond. HP
Deskjet. Sigma. Matrik. CD-R Plus. Lamb Of God. Soundgarden. Hizbullah dan
Nasrallah. Jurnalisme Sastrawi. Neraka Guantanamo. HMJ.
Perayaan-perayaan itu…apa maknanya? Apa yang harus dilakukan ketika
semua perayaan itu usai? Apakah penghujung tahun memang harus dihabiskan dengan
perayaan-perayaan dan ritual? Kenapa harus ada terompet? Kenapa harus keluar
rumah dan bersorak-sorai bersama kompatriot di saat malam telah menemukan
akhirnya? Apa yang sebenarnya dirayakan? Apa sebenarnya yang menjadi makna dari
semua ritual penghujung malam itu?
Apakah perayaan itu adalah manifestasi dari harapan yang ada dalam
benak setiap orang? Bila begitu adanya, mengapa mereka menari-nari dan
berteriak-teriak di jalan? Mengapa mereka berkerumun di luar gua mereka dan mengadakan
ritual-ritual kecil bersama kompatriotnya masing-masing? Apakah harapan mereka
akan terlaksana dengan adanya semua itu? Ataukah mereka, manusia, memang
menyenangi hiburan? Ataukah mereka, manusia, merasa kesepian dan mulai
mencari-cari alasan untuk merayakan penghujung malam, sekedar hanya untuk
berkumpul-kumpul? Ah…
“Kenapa?”, Leviathan menyadari
Behemoth yang terbius oleh lamunannya sendiri. Behemoth terkejut dan
mengalihkan perhatian Leviathan dengan menanyakan hal-hal seputar kehidupannya.
Dalam beberapa hal, Behemoth akan terbuka mengenai dirinya. Namun kali ini, Ia
menginginkan kehidupan di dirinya tetap berada dalam dirinya. Ia tidak ingin
seseorang pun mengetahui siapa dirinya.
“…dan setiap
penghabisan waktu yang terus mendera…ku kira tidak ada alasan bagiku untuk
menghentikannya. Tidak, tidak…sebenarnya bukan kepada alasan…namun lebih kepada
keadaan diriku ini. Diriku yang…lemah….sepertinya begitu…,” Leviathan berbicara
kembali tentang masalah di seputar kehidupannya. Sebuah permasalahan menyangkut
eksistensinya. Sebuah pencarian akan pencapaian jati dirinya.
Di mata
Behemoth, Leviathan adalah seseorang yang selalu tidak puas akan keadaan
dirinya yang sekarang. Ia senantiasa memaksakan dirinya untuk terus maju
melebihi keterbatasan yang ada. Hal itu merupakan sesuatu yang baik. Setidaknya
individu seseorang akan mengalami perkembangan yang pesat apabila terus-menerus
digembleng seperti itu. Namun penggemblengan seperti itu bisa menghasilkan
sesuatu yang negatif juga.
Behemoth
memperhatikan tingkah laku Leviathan yang terlalu keras terhadap dirinya
akhir-akhir ini. Bahkan saking kerasnya ia menggembleng dirinya sendiri, semua
kesempatan yang ada diambilnya semua. Dalam titik tertentu, Leviathan merasa
kewalahan menerima dan mengurus semua kesempatan itu. Suatu waktu, Behemoth
pernah membicarakan hal ini dengannya.
“Hidup hanya
sekali, bung. Banyak hal yang akan kau sesali kemudian ketika setiap kesempatan
yang ada tidak kau manfaatkan dengan baik. Intinya, kapan lagi kau bisa
melakukan semua itu?” Leviathan beralasan ketika Behemoth membicarakan masalah
ini.
“Ya, hidup
memang sekali dan begitu banyak kesempatan yang menghampirimu di kehidupan yang
hanya satu kali ini. Tapi, lihat dirimu sekarang. Engkau kewalahan. Engkau
terlalu keras terhadap dirimu sendiri. Hal yang kutakutkan adalah kau menjadi
kehilangan arah karena semua ini. Bagaimana jadinya nanti bila ternyata semua
hal yang kau urus itu menjadi berantakan dan kau malah tidak mendapat apa-apa
selain kehancuranmu sendiri?” balas Behemoth saat itu.
Tapi, di balik
sifat pendiam dan pemalunya Leviathan, tersimpan suatu tekad yang kuat dan keras
kepala yang kental. Saran yang diucapkan oleh Behemoth tidak ditanggapinya
secara serius. Hanya sekedar masukan. Behemoth sudah mengerti sifatnya yang
keras kepala itu dan ia tidak berusaha keras merubah pandangan Leviathan
sedikitpun.
Behemoth
menyimpan rasa hormat yang tinggi terhadap Leviathan. Rasa hormat itu tumbuh karena
tekad dan kemauan yang kuat yang ada di diri Leviathan. Behemoth merasa dirinya
tidak sebaik Leviathan yang mempunyai kemauan dan tekad yang besar. Behemoth
merasa bahwa dirinya adalah segala hal yang bersanding terbalik dengan
Leviathan; kemauan yang kecil dan tekad yang minim akan sesuatu hal. Karena
itulah, Behemoth menaruh hormat kepadanya. Dengan harapan bahwa sifat yang ada dalam diri Leviathan akan
menjadi pemicu bagi dirinya untuk bisa lebih kuat, berani dan yang terpenting,
berkembang.
Leviathan terus
membicarakan kehidupannya dengan Behemoth. Dalam benak Behemoth sendiri,
ketakutan dan harapan yang sedari tadi meresahkannya sudah semakin kuat
mendominasi. Dalam hati ia meronta-ronta ingin sendiri. Ia berharap Leviathan
mengantuk dan segera tertidur, sehingga ia bisa menyendiri. Lama-kelamaan, ucapan-ucapan
Leviathan hanya seperti sebuah dengung dengan makna-makna kosong yang sekedar
melewat masuk ke dalam telinga Behemoth. Pikirannya sudah tidak di tempat itu.
Konsentrasinya sudah bukan pada ucapan-ucapan Leviathan. Behemoth sudah berada
di kehidupannya sendiri.
Aku…yang tidak percaya…. Aku…yang hidup di
dunia penuh dengan sinisme, keangkuhan, keegoisan…aku menghirup nafas kehidupan
layaknya jamur-jamur berbiak di atas onggokkan tai purba*. Mereka-mereka yang
mengumbar tentang siapa diri mereka, menguapkan rasa muak mereka di saat mereka
tidak berani melemparnya langsung di kehidupan nyata…mereka yang telah membunuh
kemurnian dari setiap kehidupan dan secara tidak langsung membentuk diriku
seperti sekarang…persetan dengan mereka! Aku telah lahir; melambung, jatuh,
bahagia, muram…seperti sebuah rangkuman kehidupan. Dan diatas segalanya. Di
atas segalanya hidupku tidak akan sama lagi. Tidak akan pernah.
O, ia yang memberikan ketenangan. Aku membutuhkanmu. Di antara
hari-hari yang melupakan antara aku denganmu…aku menyesal. Seperti putaran roda
hari-hari berputar, pasti aku akan menjadi seperti sedia kala. Melupakanmu.
Lagi. Namun aku kembali mengingatmu dengan rasa malu yang sangat, karena ketika
hari semakin memanaslah aku merindukanmu. Memohon-mohon lagi. Aku tidak tahu
harus bagaimana lagi, karena aku adalah selemah-lemahnya makhluk. Diakui atau
tidak, aku akan selalu membutuhkanmu. Membutuhkanmu.
Malam telah
berakhir. Fajar menyingsing. Leviathan, Saphuthuran dan Urgehal masih terlelap
dalam tidur. Gua menjadi sangat berantakan karena perayaan semalam. Televisi
menyala membawa kabar-kabar dari dunia luar. Hidup berjalan normal seperti
sedia kala. Tidak ada yang baru.
Posted at 04:41 pm by abotidakpaham
Permalink
Monday, January 01, 2007
…Tentang Dosen Pengajar Mata Kuliah Penulisan Feature Media Massa Cetak.
sebenarnya di sabtu siang
itu mata kerasa sepet. Seperti ditusuk jarum-jarum kecil. Asap rokok
yang saya isep juga kerasa pahang. Maklum, sepanjang malam, mau ga mau, mata
(harus) terus memelototi rentetan kata-kata yang terpampang di dalam monitor;
nge-cek apakah ada kesalahan logika, salah persepsi, salah ketikan dan seribu
satu kesalahan lainnya dalam tulisan yang sudah saya buat.
Siang itu saya udah ga peduli lagi sama isi tulisan saya, mau
salah-mau bener-mau dangkal, pek mangga, silahkan baca. Bagi saya, yang
penting satu hutang terlunasi sebelum jatuh tempo. Belum lagi sinar matahari
jam 2 siang yang nusuk ke mata…duh, perjalanan dari gedung tiga ke ke gedung
empat jadi ngebikin dungdeng (manja banget, ya?). Jadinya pengen cepet
pulang ke rumah. Pengen tidur. Tidur sekaligus berharap ketika bangun nanti
pikiran jadi plong, ces pleng, mulus dan tanpa beban. Dari
kemaren tidur gelisah melulu soalnya.
Saya masuk keruangan di mana tulisan saya harus disimpan.
Ruangan itu di isi sama sekat-sekat yang menjadi petanda pembagian ruang kerja
bagi tiap ketua jurusan program diploma. Saya nyari-nyari tempat di mana saya
harus menyimpan tulisan saya. Ada satu ruang kerja yang ditempeli papan kecil
berwarna biru bertuliskan “PENYIARAN”. Di dalamnya terlihat kepala orang sedang
menunduk. Asyik sendiri. Sementara ruang kerja yang lainnya, saya lihat,
kosong. Cuman orang itu yang ada di ruangan. Saya mendekat. Yah, orang ini,
betul dia orangnya. Dia sedang asyik membaca majalah. Telunjuknya khusyuk
menyisir tiap kata demi kata yang tercetak di majalah. Gaya membacanya lucu,
seolah-olah bukan matanya saja yang membaca tulisan, tetapi seluruh tubuhnya
seperti ikut berkonsentrasi memperhatikan setiap makna yang terdapat di dalam
setiap kata. Kamu harus liat sendiri gaya dia membaca waktu itu, baru ngerti
apa yang saya tuliskan. Melihat gaya membacanya itu, pantas saja dia bisa
begitu jeli memperhatikan kesalahan ejaan dalam bahasa indonesia.
Dia belum menyadari kehadiran saya di ruangan itu, bahkan
ketika saya masuk ke ruang kerjanya pun dia masih terus membaca.
“…Pak, eu…mau ngumpulin tugas…,” kata saya kikuk.
Barulah dia mendongkakkan kepala. Ekspresi muka nya kaya yang cengo
gitu. Hehe, culun.
“Mana?”, tanyanya sembari menjulurkan tangan.
Saya kasih
tulisan saya, berikut tulisan titipan punya Army dan Hendro. setelahnya, dia
kembali lagi ke dunianya; dunia yang dipenuhi oleh teks-teks, dunia membaca.
Saya ditinggalkannya bersama kesunyian. Saya masih diam mematung.
Antara kikuk dan canggung, saya
kembali membuka suara, “…eu, Pak, eu…tulisan ini nantinya harus dikirimin ke
media massa?”
Ia mengiyakan tanpa menoleh ke
arah muka saya. Untuk sejenak, saya diam lagi. Merasa dikacangin. Masih kikuk
dan canggung, saya buka suara lagi, “…er, tapi pak, eu…narasumber saya ngomong
jangan dipublikasiin ke media massa?”
Diam-diam, setumpuk argumen telah saya siapkan untuk
pertanyaan yang akan dia ajukan nanti. Sebuah pertanyaan paling menuntut
keterampilan berpikir runut dan logis di atas rata-rata. Pembicaraan dengan
narasumber saya tentang alasan penelitiannya yang tidak ingin dipublikasikan
telah saya rekam dalam otak jauh-jauh hari. Dalam pikiran saya, orang di
hadapan saya sekarang ini terkenal dalam keahliannya melontarkan pertanyaan
sepele, tetapi bagi orang yang dituntut untuk menjawabnya, diperlukan terlebih
dahulu pemikiran yang sarat kontemplasi dan pemikiran mendalam alias tidak
dangkal. Saya pernah punya pengalaman, saya pernah ditanya oleh orang ini.
Pertanyaannya benar-benar sepele dan saya pun menjawabnya secara sepele pula.
Tapi, beliau membalas jawaban saya itu dengan pernyataan yang menukik dalam dan
menorehkan huruf “T” untuk “TOLOL” ke muka saya. Semenjak itu saya tidak akan
pernah menganggap sepele lagi setiap pertanyaan yang dia lontarkan.
Setelah
mendengar pernyataan tentang narasumber saya yang tidak ingin penelitiannya
dipublikasikan itu, dia mengarahkan pandangannya kepada saya. Saya sudah siap
sedia dengan argumen dan sejuta alasan yang akan menjadi amunisi dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang akan dia lontarkan…
“Ya,
sudah jangan dikirimkan,” katanya lalu kembali membaca majalah yang ada di
mejanya itu.
Saya
terdiam (lagi). Bayangan-bayangan tentang pertanyaan-pertanyaannya yang akan
menguji tinggi-rendahnya kadar intelektualitas saya sebagai seseorang yang
sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah, tidak terjadi. Sesimpel itu saja
jawabannya? Untuk beberapa detik, teman akrab saya, kesunyian, kembali
merangkul. Untuk yang kedua kalinya, saya merasa dikacangin.
Berbasa-basi,
saya mengucapkan terima kasih sekaligus sebagai tanda untuk berpamitan. Sebelum
keluar dari ruang kerjanya, saya perhatikan suasananya. Paper-paper yang
menjadi tanda tugas-tugas mahasiswa menumpuk. Bila saya menulis kata
‘menumpuk’, itu artinya benar-benar menumpuk. Ruang kerjanya sempit karena
sebagian lahannya dipenuhi tumpukan-tumpukan paper itu. Belum lagi buku-buku
yang tersusun rapih di atas lemari; mulai dari buku tentang pengembangan diri,
bahasa indonesia hingga psikologi.
Berbeda dengan ruang kerja yang lainnya; begitu
bersih, lowong dan rapih layaknya ruang kerja pejabat tinggi. Sedangkan, ruang
kerja yang satu ini suasananya mirip ketika saya maen ke Banceuy atau Palasari
buat beli majalah bekas. Lebih mirip sama tukang loak yang menjajakan majalah
bekas. Bedanya, ruangan itu ga diisi majalah bekas. Melainkan diisi oleh
paper-paper tugas mahasiswa.
Gila,
ini orang serius sama kerjaannya! Dalem hati saya nyeloteh. Kebayang aja,
tumpukan yang segitu banyaknya dibaca ama dia. Semua paper yang jumlahnya
ratusan itu diamati, dicermati, dianalisis dan dikomentari oleh dia. Gila,
gimana cara fokusnya kalau papernya berjumlah ratusan? Terus, ada berapa ratus
mahasiswa yang diajar olehnya, coba? Ga kebayang. Bisa muntah kalau saya
disuruh membaca paper sebanyak itu.
Tiba-tiba
saya teringat saat nongkrong sama temen-temen minggu lalu. Waktu itu suasana
lagi hectic. Ada satu tugas dari mata kuliah Penulisan Feature Media
Massa Cetak yang bikin temen-temen kelabakan. Saking ngebuat kelabakannya,
sampai-sampai mereka semua jadi ‘sibuk’ dan ‘aral’ pada saat yang bersamaan.
Hingga ucapan ‘selamat berjuang’ pun menjadi ucapan selamat tinggal terfavorit
saat itu. Saya ingat kata-kata yang diucapkan oleh dosen pengajar mata kuliah
tersebut, “bila di sebut mudah, tugas PL 1 jauh lebih mudah dari PL 2. Bila
disebut sulit, tugas PL 2 jauh lebih sulit dari PL 1.”
Ya-ya-ya…saya
akui, saya lemah dalam logika.
Waktu
itu saya juga sama dengan teman-teman yang lainnya; sibuk dan aral pada saat
yang bersamaan. Saat itu saya punya sejuta alasan untuk mengeluh, tapi saya
lebih memilih ngelamun di depan gedung tiga sambil ngerokok. Cape soalnya,
tidur ga nyenyak.
Lagi
ngelamun, seorang teman mendekat, “Bo, mau ikut nanda-tangan ga?”
“Hah,
nanda-tanganin apaan Ron?”, rada ga konek, soalnya perhatian masih tertuju pada
perempuan cantik berambut panjang yang baru aja ngelewat.
“ini…pernyataan
sikap, tugasnya terlalu berat, Bo. Waktu seminggu buat ngerjain tugas ini ga
akan cukup. Ini terlalu berat,” teman saya menjelaskan, “temen-temen yang lain
juga pada mau nanda-tangan.”
Saya
ga tau siapa aja yang mau ikut nanda-tangan itu pernyataan. Saya liat
dibelakang teman saya, Roni, itu ada Yoga, Army, Vito, Nata…sisanya ga tau
siapa lagi, lupa. Saya nge-hang sejenak, nyerna ajakan temen saya itu.
Saya nge-hang, merasa ada yang mengganjal. Saat itu, saya ragu-ragu, takut
menyinggung perasaannya sama disangka sotoy.
“eu…tapi,
kata gue mah bisa sih kita ngerjain tugas ini. Asal kita tau celahnya kita
pasti bisa. Soalnya, kemaren aja si Hendro dapet tesisnya dalem waktu cuman
sehari,” akhirnya saya keluarin pikiran yang sempet ngebuat saya nge-hang untuk
beberapa detik itu.
“tapi…tugas
ini terlalu berat, Bo. Waktu seminggu ga akan cukup…,” temen saya tetep ngotot.
Saya nge-hang lagi.
”…eu, iya sih…kendala utama ada di narasumber,
paling susah di situ,” jawab saya ga nyambung. Saya ga mau ikut ngotot.
Filsafat bulan puasa kemaren saya praktekkan lagi; orang lain puasa-ikut puasa,
orang lain buka puasa-ikut buka puasa dan orang lain sahur-ikut sahur.
--------------------------------------
Melunasi hutang dan
menunggu hutang yang lain lagi. Syaraf yang menegang, sekarang melunak dan
mungkin ini hanya sementara. Saya sudah mencium aroma ‘revisi’. Walaupun
sebatas aroma, tapi sudah terbayang seperti apa situasinya nanti.
Merekonstruksi kerangka tulisan, menyusun list pertanyaan, menelepon narasumber
dan seabreg aktivitas lainnya. Di satu sisi, saya menikmati segala kekacauan
ini. Karena saya tau, ketika semua ini berakhir, saya bisa bernafas lega. Ada
semacam kesadaran atas bermaknanya sebuah kehidupan, kejamnya putaran waktu dan
kepuasan yang tidak terdefinisikan ketika kekacauan ini bisa ditangani dengan
baik, walaupun tidak sempurna.
Di sisi yang lain, ternyata diri sendiri lah yang
menjadi penghalang utama dari tiap langkah yang akan di mulai. Ketakutan dan
rasa tidak percaya diri itu ternyata dikonstruk oleh pikiran sendiri. Di sisi
seperti ini, kaki terasa lebih berat untuk diayun. Di sisi ini lah yang akan
menentukan siapa dan seperti apa dirimu itu sebenarnya. Kita menggenggam
kontrol atas hidup kita dan kita pula yang akan merangkul saat-saat kematian
atas diri kita. Dan di atas semuanya, hidup tidak akan pernah sama. Tidak akan
pernah.
Nah,
di Sabtu siang itu, sehabis dari ruangan yang saya ceritakan di atas, saya
duduk malas-malasan di depan gedung tiga bareng Nata dan Hendro. Cuacanya
sungguh panas betul. Saya berharap punya pintu kemana saja ala Doraemon itu,
supaya bisa cepat ada di rumah. Tapi itu mah cuman hayalan bau. Sebau kentut.
Sebenernya saya ingin
cepat-cepat berada di rumah, karena mata sudah sampai mati lelahnya.
Bener-bener belel. Tapi, panasnya cuaca saat itu ngebuat saya males kemana-mana
kecuali duduk malas-malasan sambil menikmati sepinya kampus dan melapangkan
dada menerima ejekan Nata yang menyebut saya dan Hendro sebagai pasangan homo
yang baru saja jadian (ada apa dengan jomblo, Ndro? Hingga kita harus disebut
homo).
Tapi,
terserah Ibu Nata saja lah, dia mau nyebut saya homo atau apa pun. Terserah.
Tapi, tau kamu Nat, sampe sekarang wajah orang yang ada di ruang kerja yang
saya ceritakan itu masih terngiang-ngiang dalam otak dan taukah kamu Nat? orang
yang terngiang-ngiang dalam benak saya itu berjenis kelamin pria. Bahkan hingga
malam ini, ketika tiba-tiba tercetus untuk menulis secara ‘ngaler-ngidul’,
suasana ruang kerja itu masih terasa sampe ke kamar; tumpukan paper, buku-buku
yang tersusun di atas lemari…dan seseorang, ya, seseorang yang sedang duduk
sambil membaca majalah dengan serius di ruang kerja yang berantakan itu.
Sebutlah terbayang-bayang; berjejal memenuhi pikiran saya pada malam ini.
Bersamaan dengan itu, terpikir juga soal ajakan temen saya perihal tanda-tangan
pernyataan sikap pada minggu lalu. Jadi atau engga, ya? Sampai sekarang belum
ada kabar lagi, soalnya.
Belum
juga hilang semua itu bahan pikiran, tiba-tiba terlintas tulisan si Nata yang
pernah saya baca, (mau tidak mau) menambah lagi bahan untuk dipikirkan. Sebuah
tulisan simpel berbentuk testimonial yang bermuara kepada satu pertanyaan;
harus apa kita?
“Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
-(Qur’an.
Al-Alaq: 1-5)-
Posted at 04:09 pm by abotidakpaham
Permalink
Thursday, November 23, 2006
Playlist: Squarepusher – tommib Kevin Shield – ikebana Kevin Shield – goodbye Brian Reitzell & Roger J. Manning Jr. – shibuya Brian Reitzell & Roger J. Manning Jr. – on the subway Air – alone in Kyoto John Mayer – split screen sadness John Mayer - clarity "What cannot kill you, makes you stronger" -Nata- Emh…halo…udah lama banget. Lama. Ya, semenjak semua hal ternyata tidak sesuai dengan yang ada di dalam pikiran. Semenjak semua hal ternyata tidak berjalan sesuai rencana…saya kira sudah lama sekali imajinasi dan perasaan yang ada tidak lagi disave dalam folder bernama 'diary project'. Setelah semua hal tidak lagi tertata rapih alias berantakan, saya kira tidak ada lagi yang harus dilakukan kecuali menata ceceran-ceceran hidup yang masih berserak di sana-sini. Dan itulah yang saya lakukan akhir-akhir ini. Beberes, kalo kata orang sunda. Beberapa rencana terpaksa harus dipending. Hutang-hutang terpaksa dibiarkan tertumpuk menjadi gunung…mau gimana lagi? berantakan banget soalnya. Sekarang…sebenernya perasaan saya campur aduk. Rasa malu, ada. Nyesel-nya, ada. Perih…ada. Tapi, dibandingin bulan-bulan kemaren…sekarang mah udah rada tenang. Paling, 'dedek'-nya (ampas kopi – sunda) masih tersisa lah. Nah, untuk masalah 'dedek' ini, kadang-kadang ngerepotin juga. Buyar lagi konsentrasi kalo lagi kumat. Menyebalkan. Bicara tentang rasa malu…anjis, kadang suka mikir, "anjis, kunaon kalakuan teh osok bubudakkeun keneh?" Kenapa kelakuan teh ga jalan dengan sewajarnya aja? Bertindak layaknya orang lain pada umumnya (cek ini tata bahasa, rada berantakan. He.). Saya nyoba untuk bertindak wajar, bertingkah 'natural'; diem, senyum simpul, mencoba untuk 'cool', jaim…tapi, anjis…ga rame. Ga rame pisan! Seperti ada yang ngeganjel kalo saya bertingkah seperti itu. Akhirnya, saya kembali berkelakuan seperti sedia kala; teriak-teriak ga jelas di kampus, so kenal so dekat ama orang laen yang ngelewat di depan gedung tiga, neriakin orang laen yang ngelewat (walaupun saya ga kenal), ngejek anak-anak, mulai dari Sahrul, Ganjar, Damar, Hendro, Dedet, Raden, Karin, Sesti, Nia…argh, banyaklah anak-anak yang saya ejek. Saya sadar, kelakuan kaya gitu bener-bener kaya anak kecil. Tapi…fukk, di kampus kalo diem ga rame. Lagian, itu juga bagian dari terapi. Terapi buat kehidupan saya yang sempat berantakan. Jujur aja. Saya ga mau kecemplung ke dalam lembah ke-'mellow'-an. Tiba-tiba nulis puisi yang isinya ngawang-ngawang, meratapi dunia yang ternyata kejam ini, mencerca orang-orang yang ternyata ga punya pengertian tentang siapa si 'aku' ini…ah, udah lah…situasi ga separah itu. Jangan diperbuas lagi. failure is always the best way to learn, retracting your steps untill you know, have no fear your wounds will heal. Lagian, masih ada orang yang ternyata punya pengalaman yang sama dengan kamu dan kamu tidak akan merasa sendirian lagi. Kalian semua boleh nyebut saya fake, a good pretender, pura-pura senang atau apapun…kalian bebas mengeluarkan pendapat tentang saya. Sebaliknya, saya pun mempunyai kebebasan untuk meredefinisikan sikap dan tingkah laku saya. Dan inilah sikap saya; saya ga mau kesedihan dan kegalauan mendominasi hari-hari saya. Kenapa? sumpah, ga produktif! Hey, si introvert…ayo kita senyum dan ketawa ngakak ga jelas. He. *** "Kutunggu Jandamu…dan aku adalah mantan Playboy" -Arya- nah, seperti perputaran musim di Eropa sana, akhir-akhir ini di kampus, setidaknya di komunitas dimana saya 'berkecimpung', sedang terjadi fenomena dua musim yang datang secara bersamaan. Kedua musim itu adalah musim semi dan musim gugur. Kedua musim itu datang secara serempak. Menghiasi hari-hari dimana saya belajar Penulisan Feature Media Massa Cetak yang di ajarkan oleh Yth. Sahat Sahala Tua Saragih. Yang pertama diceritain mungkin musim gugur aja dulu kali ya? diurutin dulu, dari yang ga enak ke yang enak…err, ya, apapun lah. nah, yang lagi mengalami musim gugur atou layu sebelum berkembang adalah tertuduh HM, HS, MA dan N. Ada empat orang, cukup banyak juga. Kerasa banget efeknya di keempat orang itu. ada yang jadi caleuy, muka kusut, kumuh, tiba-tiba jadi serius, ga mau ketawa, jadi mellow, rumeuk, peupeus, sering bengong ga jelas, rada nge-'hang', bertingkah laku absurd, jatuh gila dan sebagainya. Eh, ini serius loh, bukan becanda. Cerita-ceritanya juga lumayan seru-seru; ada yang mutusin dengan alasan ingin bebenah dulu, tapi pada akhirnya yang mutusin tiba-tiba bogoh berat, sedangkan yang dibogohin lagi males pacaran (lagi males ama cowo, alesannya). Tuh, jadi ngegantung…hanging moon. Terus, ada yang nekat nyatain, walaupun yang dinyatainnya udah punya pacar. Hasilnya pun udah bisa diprediksi: ANDA TELAT. Terus, ada yang suka ma orang bukan sapi. Tapi ga tau harus ngelakuin apa selain diem. Nah, ya udah, orang yang disukainnya pun berlalu sembari bernyanyi riang; MAAF, DIRIMU TELAH SAYA TINGGALKAN. Lalu, ada yang sedikit rumit, soalnya menyangkut cinta segitiga dan 'sakralnya sebuah persahabatan'. Yah, yang ini ga terlalu merhatiin. Ngeri. Kaya sinetron. Mudah-mudahan ga sampe nekat minum baygon aja orang nya. Pait. Oke. Ngeliat cerita-ceritanya…ada satu pelajaran berharga yang bisa dipetik. 'Love is a fast song'. Yang namanya cinta mah lokomotif ekspress, bung! Kecepatan dan presisi dipertaruhkan disini. Selamat datang di era neo liberal; jangan Cuma ngelamun sambil ngehayal kapan punya pacar, lebih baik dateng ke tempat judi ilegal di pulo seribu terus maen Jackpot. Paling besar pemasukannya, paling gede kemungkinan jackpotnya. Huakk cuhh…tai. Nah, untuk musim semi…hoho, AMP…(Ga, ngaran lengkap maneh teh naon?)baru saja jadian. Berduaan terus, kaya biji….ehm. yah, lengket…pengen deket…pengen kangen…arrrggghhh…semerbak aroma kembang samoja tiba-tiba menyeruak! Lalu PUV…(eh, kalo si Vina teh nama lengkapnya apa?) kembali lagih bersama mengarungi bahtera cinta yang penuh godaan dan ujian setelah sebelumnya sempat dipending gara-gara teori psikoanalisis-nya sigmund freud (eh…naon, ego atawa id?). yah, dijemput dan menjemput, adalah aktifitas yang mendominasi kebersamaan mereka. Terus…oh, iya…NINA juga baru jadian! kembang Humas yang sungguh juara itu juga baru jadian. Tak terlihat, tak dinyana…tiba-tiba sudah berjalan berdua, bergandeng tangan, beriringan. Ma' nyos…sungguh lezat, pemirsa…(naooonnn atuh, anjing!). Kamu baca quote si Arya di atas? Hehe. Terus…saepulais…hehe, pasangan ter-'cua'. Kemana-mana pasti saepulais. Di HMJ, saepulais. Di kelas, saepulais. Di depan gedung tiga, saepulais. Saepulaissss terruuussssshhhhh…. Muntah. Ah…untuk soal musim gugur dan musim semi mah…satu pegangan saya; rumeuk! *** "Pribados, Bo…Pribados…" -Sahrull- catatan kecil sehabis debat ga jelas bareng si Sahrull di depan fakultas peternakan unpad (nyari susu sapi, cuman lagi abis. Fukk.). Untuk menghadapi keseragaman, alternatif yang bisa digunakan adalah menghadapinya dengan keberagaman itu sendiri. Untuk bisa memunculkan keberagaman, maka harus dimulai dari tataran akar rumput. Disitulah tataran yang paling mendasar dalam membentuk sebuah identitas. Membangun konsep dan sikap tentang siapa diri kita, apa tujuan yang ingin dicapai setelah bangun tidur, langkah apa saja yang 'bisa' dilakukan untuk meraih tujuan itu. Pada hakikatnya, saya pikir, semua bentuk perlawanan terhadap keseragaman bukan terletak pada seberapa 'idealis' kita dalam melawan, seberapa 'kiri' atau 'kanan' kita dalam melakukan resistensi. Melainkan, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan untuk merubah keadaan. Pada intinya, bagaimana kita menemukan celah dan jeli melihat peluang. Itu. Sedangkan untuk 'ideologi' atau 'idealis', saya rasa itu sudah masuk ke level yang paling personal. Rull, menjadi idealis mah memang keren. Terus bener juga apa kata kamu, kita ga bisa menjadi idealis 100% dalam mengubah sesuatu. Soalnya, bener lagi apa kata kamu, pasti kebentur sama kebutuhan hidup (makan, minum, onani, tagihan, hutang dsb) dan orang lain. Tapi, dalam konteks 'menghajar kebosanan' dan 'menghantam keseragaman', saya kira persoalan idealis mah ga usah di bawa-bawa lagi. kenapa? karena memang dunia mah beragam, banyak komunitas yang berbeda prinsip. Satu hal yang paling mungkin dan logis untuk dilakukan hanyalah itu tadi, apa yang bisa dilakukan untuk merubah keadaan a.k.a. langkah kongkrit! Saya kepincut juga soalnya ama contoh kasus yang dipaparin Herry tentang PTDI. Pada awalnya, P.T.DI itu berjuang melawan tirani hanya beranggotakan karyawan-karyawan PTDI itu sendiri. Bagusnya, perjuangan mereka berlanjut. Mereka mulai mengorganisir diri mereka - membangun sebuah sikap di komunitas mereka sendiri. Sikap apa yang akan diambil untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, mereka memperkuat komunitasnya. 'Ada gerak yang berkesinambungan', kalo make bahasa makalah mah. Satu hal yang bikin saya kepincut adalah, setelah komunitas mereka menjadi lebih advanced, resistensi mereka semakin melebar. Tidak terjebak dalam eksklusifitas. Karyawan PT.DI Menjadi lebih gaul. Mereka memandang persoalan yang dihadapi oleh komunitas lain juga merupakan masalah mereka. Walaupun memang bila dilihat dari luar, perjuangan yang dilakukan oleh tiap komunitas itu berbeda-beda. Tetapi kalo mau diliat lebih jauh mah, semua masalah yang beda itu pada intinya bermuara kepada satu hal; keseragaman itu sendiri. Keseragaman yang bikin mandul. Coba aja perhatiin contoh kasus yang dipaparin Herry tentang karyawan PTDI yang mendukung perjuangan rakyat Palestina mempertahanin tanah kelahirannya. Coba pikirin bagaimana karyawan PTDI memberi bantuan ketika PRD dirudung masalah. Begitupun ketika Hizbuttahrir meminta bantuan, oleh PTDI pun tidak disia-sia kan. Coba perhatiin? PRD dan Hizbuttahrir itu sudah sangat berbeda secara ideologis, yang satu nyerempet kiri, satunya lagi nyerempet kanan. Apalagi PTDI? Nah, ngeliat contoh kasus itu tadi, kalo permasalah itu ujung-ujungnya ternyata sama, menjadi idealis ato tidak itu udah ga relevan lagi. seharusnya, saya sama kamu teh lebih banyak bergerak di tataran praksis daripada tataran ide kaya gini. Biar kita banyak gagal, biar kita banyak sakit, biar kita mulai dari nol lagi, tapi pada akhirnya biar kita tau juga. Jadi, ga gampang dibodohin sama orang lain. gitu. Kalo saya mah pengennya gitu, rul. Tapi, emang, nulis di blog mah sama waduknya dengan bengong ngebayangin ada cewe yang bakal ngedeketin. Waduk banget, sewaduk kentut. Balik lagi ke contoh kasus tadi. Jadi, yang saya bisa maknain dari itu semua adalah…gimana kita merubah hal yang besar dari hal yang paling mendasar dulu, seperti dalam tataran personal atau komunitas kita masing-masing. Lalu dilanjutkan menuju tataran yang lebih besar. Secara bertahap. Menjadi idealis itu penting. Penting banget. Yang kaya gitu itu menjadi pijakan buat ngebentuk identitas kita. siapa kita ini? Apa yang membedakan saya sama kamu? Tapi, ketika kita loncat ke ruang yang lebih luas lagi, menjadi idealis adalah sesuatu yang berlaku hanya bagi diri kamu atau komunitas kamu. Itu. di ruang yang lebih luas itu ada orang lain lagi, ada komunitas lain lagi yang memiliki entitas berbeda. Tapi, semua itu ga menjadi penting lagi ketika orang atau komunitas yang lain itu mempunyai masalah yang sama. Apapun bentuknya. Bayangin aja lah, biar jelas…si A berbeda, karena kakinya ga ada satu, sedangkan si B juga beda, karena tangannya ga ada satu. Tapi, mereka berjalan berdua menuju satu tujuan; nyantronin rumah si Citra. Memikirkan tentang ide-ide adiluhung itu keren. Tapi keluar dari rumah dan bermain diluar itu lebih mengasyikkan. Kata saya loh ini mah, Rull?
Posted at 07:38 am by abotidakpaham
Permalink
Sunday, October 29, 2006
Kalian pernah ngerasain, kalo waktu itu cepet banget
ngalirnya? Coba bayangin, dulu kalian pernah berada di suatu tempat dan di
tempat itu ada kenangan tersendiri buat kalian. Udah lama kalian ga ke tempat
itu, sampai suatu saat, secara ga sengaja kalian berada lagi di tempat itu.
kilasan-kilasan memori berseliweran. Kebodohan-kebodohan dan
kesuksesan-kesuksesan yang pernah kalian lakukan dulu mencuat lagi di dalam
kepala. Senyum, kalian tersenyum…mengenang lagi semua itu.
Kenangan,
semenyakitkan dan semenyenangkan apapun, pasti akan terasa menyejukkan
(setidaknya buat saya). Perumpaannya seperti angin sore; segar mengelus kulit.
Walaupun begitu, setiap kali mengenang sesuatu, ada satu hal yang membuat saya
takut juga.
Akhir-akhir ini saya memang termakan oleh doktrin Sahrul
tentang filasafat ‘pribados’; menjadi individu yang berkualitas adiluhung (
Akhir-akhir ini Sahrul memang gencar mengkampanyekan filsafat pribados,
setidaknya ke saya gitu). Berbicara tentang menjadi manusia yang mempunyai
kualitas adiluhung, ketika saya dikondisikan untuk berada dalam situasi yang
mengharuskan untuk mengkorek-korek kembali hal-hal yang pernah saya lakukan
dulu, terkadang saya melihat sebuah cermin yang seakan-akan mengatakan; “ga ada
bedanya antara diri kamu setaun yang lalu dengan yang sekarang”.
Nah, bicara tentang stagnansi, adalah sesuatu hal yang sangat
menyebalkan dan mungkin kalian semua juga, saya yakin, ga mau terjebak dalam
kemandekan, bukan? Tapi, ya itu, terkadang ketika saya mengenang sesuatu…saya
selalu dihadapkan oleh kenyataan tentang diri ini yang terjebak dalam
kemandekan. Seperti tidak ada bedanya diri saya yang dulu dengan diri saya yang
sekarang. Padahal, umur udah mau 22, istilahnya mah udah, anjis, mendekati tua
lah. tapi kalo dipikir-pikir kegiatan saya sekarang ini hanya diisi oleh maen
karambol, ngejek temen, patah hati di himpunan, ngelamun di kamar, bercanda dan
ketawa ngakak ga jelas sama temen, ngambil rokok di warung ketika ibu lagi di
kamar mandi – sangat-sangat tidak produktif. Anjis, lama kelamaan aktivitas
kaya gitu ga akan menghasilkan apa-apa. Urgh, harus dirubah.
Kalian pernah
merasakannya, ketika kalian dihadapkan pada fakta bahwa kehidupan kalian tidak
bergerak kemana-mana, sedangkan disisi lain, jarum jam terus menerus bergulir?
Ugh, jangan sampai tumbang, teman. Carpe diem, seize the day.
Posted at 12:17 pm by abotidakpaham
Permalink
|