Entry: personal Thursday, November 23, 2006





 

Playlist:

Squarepusher – tommib

Kevin Shield – ikebana

Kevin Shield – goodbye

Brian Reitzell & Roger J. Manning Jr. – shibuya

Brian Reitzell & Roger J. Manning Jr. – on the subway

Air – alone in Kyoto

John Mayer – split screen sadness

John Mayer - clarity

 
"What cannot kill you, makes you stronger"

     -Nata-

Emh…halo…udah lama banget. Lama. Ya, semenjak semua hal ternyata tidak sesuai dengan yang ada di dalam pikiran. Semenjak semua hal ternyata tidak berjalan sesuai rencana…saya kira sudah lama sekali imajinasi dan perasaan yang ada tidak lagi disave dalam folder bernama 'diary project'. Setelah semua hal tidak lagi tertata rapih alias berantakan, saya kira tidak ada lagi yang harus dilakukan kecuali menata ceceran-ceceran hidup yang masih berserak di sana-sini. Dan itulah yang saya lakukan akhir-akhir ini. Beberes, kalo kata orang sunda. Beberapa rencana terpaksa harus dipending. Hutang-hutang terpaksa dibiarkan tertumpuk menjadi gunung…mau gimana lagi? berantakan banget soalnya.

Sekarang…sebenernya perasaan saya campur aduk. Rasa malu, ada. Nyesel-nya, ada. Perih…ada. Tapi, dibandingin bulan-bulan kemaren…sekarang mah udah rada tenang. Paling, 'dedek'-nya (ampas kopi – sunda) masih tersisa lah. Nah, untuk masalah 'dedek' ini, kadang-kadang ngerepotin juga. Buyar lagi konsentrasi kalo lagi kumat. Menyebalkan.

Bicara tentang rasa malu…anjis, kadang suka mikir, "anjis, kunaon kalakuan teh osok bubudakkeun keneh?"

Kenapa kelakuan teh ga jalan dengan sewajarnya aja? Bertindak layaknya orang lain pada umumnya (cek ini tata bahasa, rada berantakan. He.). Saya nyoba untuk bertindak wajar, bertingkah 'natural'; diem, senyum simpul, mencoba untuk 'cool', jaim…tapi, anjis…ga rame. Ga rame pisan! Seperti ada yang ngeganjel kalo saya bertingkah seperti itu. Akhirnya, saya kembali berkelakuan seperti sedia kala; teriak-teriak ga jelas di kampus, so kenal so dekat ama orang laen yang ngelewat di depan gedung tiga, neriakin orang laen yang ngelewat (walaupun saya ga kenal), ngejek anak-anak, mulai dari Sahrul, Ganjar, Damar, Hendro, Dedet, Raden, Karin, Sesti, Nia…argh, banyaklah anak-anak yang saya ejek. Saya sadar, kelakuan kaya gitu bener-bener kaya anak kecil. Tapi…fukk, di kampus kalo diem ga rame. Lagian, itu juga bagian dari terapi. Terapi buat kehidupan saya yang sempat berantakan.

Jujur aja. Saya ga mau kecemplung ke dalam lembah ke-'mellow'-an. Tiba-tiba nulis puisi yang isinya ngawang-ngawang, meratapi dunia yang ternyata kejam ini, mencerca orang-orang yang ternyata ga punya pengertian tentang siapa si 'aku' ini…ah, udah lah…situasi ga separah itu. Jangan diperbuas lagi. failure is always the best way to learn, retracting your steps untill you know, have no fear your wounds will heal. Lagian, masih ada orang yang ternyata punya pengalaman yang sama dengan kamu dan kamu tidak akan merasa sendirian lagi.

Kalian semua boleh nyebut saya fake, a good pretender, pura-pura senang atau apapun…kalian bebas mengeluarkan pendapat tentang saya. Sebaliknya, saya pun mempunyai kebebasan untuk meredefinisikan sikap dan tingkah laku saya. Dan inilah sikap saya; saya ga mau kesedihan dan kegalauan mendominasi hari-hari saya. Kenapa? sumpah, ga produktif!

Hey, si introvert…ayo kita senyum dan ketawa ngakak ga jelas. He.

                              ***

"Kutunggu Jandamu…dan aku adalah mantan Playboy"

                                                           -Arya- 

nah, seperti perputaran musim di Eropa sana, akhir-akhir ini di kampus, setidaknya di komunitas dimana saya 'berkecimpung', sedang terjadi fenomena dua musim yang datang secara bersamaan. Kedua musim itu adalah musim semi dan musim gugur. Kedua musim itu datang secara serempak. Menghiasi hari-hari dimana saya belajar Penulisan Feature Media Massa Cetak yang di ajarkan oleh Yth. Sahat Sahala Tua Saragih.

Yang pertama diceritain mungkin musim gugur aja dulu kali ya? diurutin dulu, dari yang ga enak ke yang enak…err, ya, apapun lah. nah, yang lagi mengalami musim gugur atou layu sebelum berkembang adalah tertuduh HM, HS, MA dan N. Ada empat orang, cukup banyak juga. Kerasa banget efeknya di keempat orang itu. ada yang jadi caleuy, muka kusut, kumuh, tiba-tiba jadi serius, ga mau ketawa, jadi mellow, rumeuk, peupeus, sering bengong ga jelas, rada nge-'hang', bertingkah laku absurd, jatuh gila dan sebagainya. Eh, ini serius loh, bukan becanda.

Cerita-ceritanya juga lumayan seru-seru; ada yang mutusin dengan alasan ingin bebenah dulu, tapi pada akhirnya yang mutusin tiba-tiba bogoh berat, sedangkan yang dibogohin lagi males pacaran (lagi males ama cowo, alesannya). Tuh, jadi ngegantung…hanging moon.

Terus, ada yang nekat nyatain, walaupun yang dinyatainnya udah punya pacar. Hasilnya pun udah bisa diprediksi: ANDA TELAT.

Terus, ada yang suka ma orang bukan sapi. Tapi ga tau harus ngelakuin apa selain diem. Nah, ya udah, orang yang disukainnya pun berlalu sembari bernyanyi riang; MAAF, DIRIMU TELAH SAYA TINGGALKAN.

Lalu, ada yang sedikit rumit, soalnya menyangkut cinta segitiga dan 'sakralnya sebuah persahabatan'. Yah, yang ini ga terlalu merhatiin. Ngeri. Kaya sinetron. Mudah-mudahan ga sampe nekat minum baygon aja orang nya. Pait.

Oke. Ngeliat cerita-ceritanya…ada satu pelajaran berharga yang bisa dipetik. 'Love is a fast song'. Yang namanya cinta mah lokomotif ekspress, bung! Kecepatan dan presisi dipertaruhkan disini. Selamat datang di era neo liberal; jangan Cuma ngelamun sambil ngehayal kapan punya pacar, lebih baik dateng ke tempat judi ilegal di pulo seribu terus maen Jackpot. Paling besar pemasukannya, paling gede kemungkinan jackpotnya. Huakk cuhh…tai.

Nah, untuk musim semi…hoho, AMP…(Ga, ngaran lengkap maneh teh naon?)baru saja jadian. Berduaan terus, kaya biji….ehm. yah, lengket…pengen deket…pengen kangen…arrrggghhh…semerbak aroma kembang samoja tiba-tiba menyeruak!

Lalu PUV…(eh, kalo si Vina teh nama lengkapnya apa?) kembali lagih bersama mengarungi bahtera cinta yang penuh godaan dan ujian setelah sebelumnya sempat dipending gara-gara teori psikoanalisis-nya sigmund freud (eh…naon, ego atawa id?). yah, dijemput dan menjemput, adalah aktifitas yang mendominasi kebersamaan mereka.

Terus…oh, iya…NINA juga baru jadian! kembang Humas yang sungguh juara itu juga baru jadian. Tak terlihat, tak dinyana…tiba-tiba sudah berjalan berdua, bergandeng tangan, beriringan. Ma' nyos…sungguh lezat, pemirsa…(naooonnn atuh, anjing!). Kamu baca quote si Arya di atas? Hehe.

Terus…saepulais…hehe, pasangan ter-'cua'. Kemana-mana pasti saepulais. Di HMJ, saepulais. Di kelas, saepulais. Di depan gedung tiga, saepulais. Saepulaissss terruuussssshhhhh…. Muntah.

Ah…untuk soal musim gugur dan musim semi mah…satu pegangan saya; rumeuk!

                           ***

"Pribados, Bo…Pribados…"

-Sahrull-

 

catatan kecil sehabis debat ga jelas bareng si Sahrull di depan fakultas peternakan unpad (nyari susu sapi, cuman lagi abis. Fukk.).

Untuk menghadapi keseragaman, alternatif yang bisa digunakan adalah menghadapinya dengan keberagaman itu sendiri. Untuk bisa memunculkan keberagaman, maka harus dimulai dari tataran akar rumput. Disitulah tataran yang paling mendasar dalam membentuk sebuah identitas. Membangun konsep dan sikap tentang siapa diri kita, apa tujuan yang ingin dicapai setelah bangun tidur, langkah apa saja yang 'bisa' dilakukan untuk meraih tujuan itu.

Pada hakikatnya, saya pikir, semua bentuk perlawanan terhadap keseragaman bukan terletak pada seberapa 'idealis' kita dalam melawan, seberapa 'kiri' atau 'kanan' kita dalam melakukan resistensi. Melainkan, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan untuk merubah keadaan. Pada intinya, bagaimana kita menemukan celah dan jeli melihat peluang. Itu. Sedangkan untuk 'ideologi' atau 'idealis', saya rasa itu sudah masuk ke level yang paling personal.

Rull, menjadi idealis mah memang keren. Terus bener juga apa kata kamu, kita ga bisa menjadi idealis 100% dalam mengubah sesuatu. Soalnya, bener lagi apa kata kamu, pasti kebentur sama kebutuhan hidup (makan, minum, onani, tagihan, hutang dsb) dan orang lain. Tapi, dalam konteks 'menghajar kebosanan' dan 'menghantam keseragaman', saya kira persoalan idealis mah ga usah di bawa-bawa lagi. kenapa? karena memang dunia mah beragam, banyak komunitas yang berbeda prinsip. Satu hal yang paling mungkin dan logis untuk dilakukan hanyalah itu tadi, apa yang bisa dilakukan untuk merubah keadaan a.k.a. langkah kongkrit!

Saya kepincut juga soalnya ama contoh kasus yang dipaparin Herry tentang PTDI. Pada awalnya, P.T.DI itu berjuang melawan tirani hanya beranggotakan karyawan-karyawan PTDI itu sendiri. Bagusnya, perjuangan mereka berlanjut. Mereka mulai mengorganisir diri mereka - membangun sebuah sikap di komunitas mereka sendiri. Sikap apa yang akan diambil untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, mereka memperkuat komunitasnya. 'Ada gerak yang berkesinambungan', kalo make bahasa makalah mah.

Satu hal yang bikin saya kepincut adalah, setelah komunitas mereka menjadi lebih advanced, resistensi mereka semakin melebar. Tidak terjebak dalam eksklusifitas. Karyawan PT.DI Menjadi lebih gaul. Mereka memandang persoalan yang dihadapi oleh komunitas lain juga merupakan masalah mereka. Walaupun memang bila dilihat dari luar, perjuangan yang dilakukan oleh tiap komunitas itu berbeda-beda. Tetapi kalo mau diliat lebih jauh mah, semua masalah yang beda itu pada intinya bermuara kepada satu hal; keseragaman itu sendiri. Keseragaman yang bikin mandul.

Coba aja perhatiin contoh kasus yang dipaparin Herry tentang karyawan PTDI yang mendukung perjuangan rakyat Palestina mempertahanin tanah kelahirannya. Coba pikirin bagaimana karyawan PTDI memberi bantuan ketika PRD dirudung masalah. Begitupun ketika Hizbuttahrir meminta bantuan, oleh PTDI pun tidak disia-sia kan. Coba perhatiin? PRD dan Hizbuttahrir itu sudah sangat berbeda secara ideologis, yang satu nyerempet kiri, satunya lagi nyerempet kanan. Apalagi PTDI? Nah, ngeliat contoh kasus itu tadi, kalo permasalah itu ujung-ujungnya ternyata sama, menjadi idealis ato tidak itu udah ga relevan lagi. seharusnya, saya sama kamu teh lebih banyak bergerak di tataran praksis daripada tataran ide kaya gini. Biar kita banyak gagal, biar kita banyak sakit, biar kita mulai dari nol lagi, tapi pada akhirnya biar kita tau juga. Jadi, ga gampang dibodohin sama orang lain. gitu. Kalo saya mah pengennya gitu, rul. Tapi, emang, nulis di blog mah sama waduknya dengan bengong ngebayangin ada cewe yang bakal ngedeketin. Waduk banget, sewaduk kentut.

Balik lagi ke contoh kasus tadi. Jadi, yang saya bisa maknain dari itu semua adalah…gimana kita merubah hal yang besar dari hal yang paling mendasar dulu, seperti dalam tataran personal atau komunitas kita masing-masing. Lalu dilanjutkan menuju tataran yang lebih besar. Secara bertahap.

Menjadi idealis itu penting. Penting banget. Yang kaya gitu itu menjadi pijakan buat ngebentuk identitas kita. siapa kita ini? Apa yang membedakan saya sama kamu? Tapi, ketika kita loncat ke ruang yang lebih luas lagi, menjadi idealis adalah sesuatu yang berlaku hanya bagi diri kamu atau komunitas kamu. Itu. di ruang yang lebih luas itu ada orang lain lagi, ada komunitas lain lagi yang memiliki entitas berbeda. Tapi, semua itu ga menjadi penting lagi ketika orang atau komunitas yang lain itu mempunyai masalah yang sama. Apapun bentuknya. Bayangin aja lah, biar jelas…si A berbeda, karena kakinya ga ada satu, sedangkan si B juga beda, karena tangannya ga ada satu. Tapi, mereka berjalan berdua menuju satu tujuan; nyantronin rumah si Citra.

Memikirkan tentang ide-ide adiluhung itu keren. Tapi keluar dari rumah dan bermain diluar itu lebih mengasyikkan. Kata saya loh ini mah, Rull?     

          

 

 


   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments